Sensasi Buka Puasa di Gunung Bromo

Adalah nekat ketika saya memutuskan untuk melakukan perjalanan alias dolan ke Gunung Bromo, Jawa Timur. Apalagi piknik kecil ini dilakukan saat puasa Ramadan 2012 lalu dan di sela aktivitas yang tak bisa diajak kompromi.

Alhasil, di akhir Juli 2012 lalu, saya dan 10 kawan berangkat ke Bromo. Perjalanan lewat darat memang tergolong melelahkan lantaran jarak dari Solo hingga menuju Probolinggo-Pasuruan, Jawa Timur memakan waktu hingga 8 jam. Saya dan teman-teman berangkat pada Jumat malam. Setelah mampir ke sana kemari sekitar Sabtu pukul 15.30WIB sampailah di permukiman dekat dengan Bromo.

Saya belum pernah tahu seperti apa Bromo, yang konon menjadi tempat bermukim Suku Tengger.  Terlintas di benak saya, Bromo itu gunung yang cukup tinggi dan terjal seperti Merapi. Jika memang seperti si Merapi, berat benar perjalanan ke puncaknya.

Kami bersebelas tak perlu berpikir panjang untuk memutuskan pergi ke puncak Bromo sore itu juga. Setelah sebelumnya kami mencari penginapan untuk sekadar singgah semalam. Akhirnya rumah singgah dengan harga terjangkau berhasil didapatkan, harga sekitar Rp300.00/malam. Rumah sederhana ini dilengkapi dengan dua kamar tidur, dua ruang keluarga, dan satu kamar mandi. Cukuplah bagi saya dan kawan-kawan untuk melepas lelah selama di jalan.

4 Sensasi Buka Puasa di Gunung Bromo
Saya dan kawan-kawan di puncak Bromo

Akhirnya, dengan menaiki mobil jeep rombongan dibawa menuju padang pasir Gunung Bromo. Waow, benar-benar ajaib! Tidak seperti gunung pada umumnya yang penuh dengan vegetasi berupa pepohonan tinggi serta bebatuan terjal untuk didaki, Bromo penuh pasir. Sejauh mata memandang adalah hamparan pasir.

Jeep yang kami naiki tidak bisa membawa kami sampai ke puncak Bromo. Sulitnya medan membuat kendaraan yang cocok di jalan yang super berat ini harus berhenti di beberapa kilometer depan Pura Luhur Poten Bromo.

Melihat Bromo dari jarak sekitar 3 km membuat mulut ternganga saja. Bagaimana tidak, di depan sana terhampar gunung berpasir dan berbatu. Kami harus bergegas cepat  karena hari semakin sore. Jika mau lebih praktis, bisa naik kuda namun ongkosnya mahal Rp100.000. Beruntung karena cuaca saat itu sudah tak terik lagi. Saya tak habis fikir bisa ikut ide gila teman saya untuk naik gunung saat berpuasa.

4 Sensasi Buka Puasa di Gunung Bromo

Alhamdulillah, perjalanan yang panjang dan berliku justru meneguhkan puasa kami. Bahkan, demi menjelang berbuka puasa saja naik gunung pun kami lakukan. Kami pun menyerah pada medan dan memilih untuk naik kuda dengan ongkos yang didiskon habis-habisan. Mungkin karena yang punya kuda berpikir lebih baik dapat uang daripada tidak. Jadi, berkuda saja dengan Rp20.000.

Nampaknya berkuda saja tidak cukup. Binatang berkaki empat ini hanya mampu membawa saya dan kawan-kawan sampai ke ¾ perjalanan ke puncak. Sisanya, ada ratusan anak tangga yang siap untuk tanjaki. Maka sore itu adalah momen yang tak terlupakan. Berbuka puasa di puncak Bromo!

Sembari membatalkan puasa dengan air mineral, senja mulai nampak di ufuk barat. Semburat warna orange berpadu dengan biru dan entah warna apalagi. Petang itu tak ada suara azan yang biasa terdengar saat waktu salat tiba. Tak ada semangkuk kolak ataupun es cendol di depan saya. Tak ada nasi bahkan lauk pauk sekadar gorengan yang tersaji. Sebagai gantinya, cukuplah berbuka dengan sebotol air mineral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *