Rumah Kuno Gaya Indisch di Kompleks Hotel Harris Pop! Solo

DE6ADEB7-F06D-451B-B9F4-ADDA9499C706-8744-000002EAB26AB167 Rumah Kuno Gaya Indisch di Kompleks Hotel Harris Pop! Solo
Seorang pekerja memperbaiki rumah kuno di kompleks Harris Pop! Hotel Solo, Selasa (26/12/2017).

Keberadaan rumah dengan gaya arsitektur perpaduan Jawa dan Eropa di kompleks Harris Pop! Hotel Solo di Jalan Slamet Riyadi yang sedang dibangun begitu kontras dengan gedung tinggi yang terletak di belakang maupun sampingnya. Rumah gaya hindis itu memang sengaja tak dirobohkan oleh pemilik Hotel Harris Pop Solo.

Rumah kuno bercat kuning kehijau-hijauan yang mulai pudar warnanya itu tengah direstorasi. Rumah ini diyakini berusia ratusan tahun lewat sebuah penanda pada bagian tembok bangunan yang menunjukkan angka 1851. Di bawah angka tersebut ada tulisan MDS yang menandakan kepemilikan.

“Rumah ini dulunya milik Bapak Mulyodikarso yang pindah dari Kotagede tahun 1915. Pemilik rumah adalah salah satu dari dua keturunan Wong Kalang Tegalgendu yang masih bersaudara di Solo,” tutur Pegiat Laku Lampah (komunitas yang tergerak menggali tempat-tempat bersejarah), Fendi Fauzi Alfiansyah, Selasa (26/12/2018).

Fendi pun bercerita dulunya rumah ini berfungsi sebagai rumah gadai partikelir yang semula terletak di bagian sisi timur yang dihilangkan. Pemilik rumah lama, yakni Mulyodikarso bersaudara dengan Anwar Sodik, Wong Kalang-Tegalgendu, yang memiliki rumah di sisi timur Gereja Kepunton, Jebres.

Sejarawan Heri Priyatmoko menyebut Tegalgendu adalah sebutan untuk orang kaya yang berlatar wirausaha. Menurutnya, di Solo ada Wong Kalang Galgendu meski tak banyak. Mereka memiliki banyak uang sehingga dengan kekayaannya diwujudkan dalam bentuk bangunan rumah atau ndalem.

“Para Galgendu punya gaya hidup yang tinggi pula. Secara status sosial, boleh dibilang mereka kalah dengan aristokrat [orang kraton], namun mereka emoh kalah dalam perkara ekonomi. Maka, untuk menunjukkan status ekonominya, mereka membangun omah loji,” tuturnya.

Akademisi Teknik Arsitektur Universitas Sebelas Maret, Titis Srimuda Pitana, menjelaskan kawasan hotel berpadu dengan rumah kuno tersebut gaya arsitekturnya menggunakan idiom pastiche, yakni memadukan unsur etnik dan modern secara ekletik atau campuran. Sedangkan detail elemen yang digunakan pun menggunakan idiom estetika pastiche.

“Bangunan bergaya lama yang baru dibangun dan berpadu dengan modern itulah yang saya maksud dengan pastiche. Kalau kemudian pemilik [hotel] memanfaatkan keseksiannya sebagai bangunan lama, itu bagian dari estetika yang hendak dimunculkan,” ungkapnya.

Menurutnya, bangunan lamanya jelas perpaduan Jawa Eropa. Di samping itu, ini tipikal bangunan milik saudagar atau orang kaya pada masanya yang juga menunjukkan kelas sosial. Hal ini teridentifikasi dengan penggunaan ornamen dan bahan besi.

DE6ADEB7-F06D-451B-B9F4-ADDA9499C706-8744-000002EAB26AB167 Rumah Kuno Gaya Indisch di Kompleks Hotel Harris Pop! Solo
Bangunan lama di kompleks Harris Pop! Hotel Solo.

Sedangkan Akademisi dari Teknik Arsitektur UNS Solo yang aktif di forum cagar budaya, Kusumaningdyah Nurul Handayani, menyebutnya Rumah Pusaka Berlanggam Campuran. Menurutnya, rumah tradisional berlanggam Jawa bercampur dengan arsitektur indisch. Langgam bangunan ini juga banyak ditemui di jalan utama di Kotagede.

“Sebab gaya bangunannya merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa dan indisch, jika di Kotagede di sebut Rumah Kalang. Selain itu, pada beberapa bagian dari arsitektur rumah ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur cina terlihat dari ornamen flora serta ornamen sulur suluran pada tiang di lantai menjadi bagiannya,” ungkapnya.

Sementara gaya arsitektur indish bisa dilihat pada ornamen kaca patri, tegel keramik lantai. Di samping itu, terlihat juga pada tiang besi yang digunakan pada teras depan biasa disebut emper. Tiang ini tidak berada pada struktur utama bangunan dan bentuknya berupa besi silinder berornamen.

Ia menyebut bangunan ini seperti yang ada di Kotagede. Dalam buku Pedoman Pelestarian Bagi Pemilik Rumah: Kawasan Pusaka Kotagede, Yogyakarta, yang salah satu penulisnya adalah dosen yang akrab disapa Ruli ini menjelaskan ada mitos orang Kalang tidak diperbolehkan membangun rumah yang sama dengan rumah Jawa. Namun karena kondisi ekonomi mereka yang sangat baik, mereka mampu membangun rumah yang meniru gaya arsitektur Indisch yang dikombinasikan dengan gaya arsitektur rumah bangsawan Jawa.

“Sebagai catatan, tidak banyak orang Jawa pada saat itu yang cukup kaya untuk membangun rumah yang demikian, sehingga Rumah Kalang menjadi simbol kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya,” imbuhnya.

DE6ADEB7-F06D-451B-B9F4-ADDA9499C706-8744-000002EAB26AB167 Rumah Kuno Gaya Indisch di Kompleks Hotel Harris Pop! Solo
Bangunan lama sebelum diperbaiki oleh Harris Pop! Hotel Solo.

Staf kontraktor PT Adhikarya, Waluyo, yang bertanggung jawab atas pembangunan Harris Pop! Hotel Solo, mengakui butuh penanganan khusus untuk merestorasi bangunan kuno yang diprediksi sudah berusia ratusan tahun tersebut. Bangunan di sayap kanan atau timur dirobohkan terlebih dahulu lantaran untuk pemasangan tower crane. Namun demikian, kini pihaknya tengah membangun ulang seperti sedia kala.

“Memperbaiki bangunan ini tak bisa sembarangan. Mereka yang mengerjakan adalah tukang-tukang senior. Kami tak mengubah apa pun, tapi memperbaiki yang sudah rusak seperti rangka atap dengan baja ringan, bagian dinding kami plester agar bagus. Sedangkan ubin masih tetap,” tuturnya.

Sementara itu, Marketing Communication Manager Hotel Harris Pop Solo, Ery Fibriani, menambahkan sang pemilik memang berpesan kepada pelaksana proyek untuk tak boleh membongkar bangunan lama tersebut. Manajemen pun berencana menjadikan rumah kuno bergaya Jawa Eropa itu sebagai point of interest hotel.

“Kami berencana menjadikan bangunan lama itu sebagai restoran atau pun galeri. Apalagi tempatnya berada di paling depan sehingga menjadi landscape utama hotel kami,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *