Pesona Kuliner Kekinian di Lantai II Pasar Gede

Pasar Gede Solo bagian barat tepatnya di lantai II bertransformasi menjadi salah satu jujugan kuliner kekinian yang tenar di kalangan anak muda dalam tiga tahun terakhir. Bahkan, Pasar Gede tak sekadar terkenal sebagai pasar tradisional, tetapi juga pasar wisata. Jika pengunjung ingin menikmati aneka makanan tradisional ke Pasar Gede bagian timur, sementara kuliner hits bisa langsung jajan ke Pasar Gede bagian timur tepatnya di lantai II.
Selain itu, di tengah pandemi Covid-19 kawasan kuliner ini mampu membuktikan diri bisa bertahan. Mereka tetap mengedepankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sedangkan selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, para pelaku usaha kuliner di area ini juga menaati aturan yang ada dengan tetap melayani pelanggan hanya untuk dibawa pulang atau take away. Selain itu, mereka menggeber layanan online melalui Whatsapp maupun jasa ojek online.
Sebelum PPKM Darurat, tak seperti ketika jajan di mal atau sentra kuliner lainnya, pengunjung jika hendak ke kawasan kuliner ini disambut dengan deretan pedagang buah-buahan yang ada di lantai I pasar. Cara masuknya bisa menggunakan tangga baik dari pasar bagian depan, samping kanan kiri, maupun dari belakang.
Begitu naik ke lantai II suasana langsung berbeda. Kios-kios ini diubah menjadi warung makanan, mulai dari kuliner menu barat, oriental, Jepang, Jawa, hingga warung kopi. Sementara lorong-lorong pasar disulap menjadi tempat makan yang dilengkapi dengan meja dan kursi-kursi. Kini belasan kios makanan buka di kawasan kuliner tersebut.
Di masa normal sebelum pandemi area kuliner ini ramai pengunjung baik dari dalam maupun luar kota yang notabene kalangan muda. Lokasinya yang strategis di pusat kota serta pilihan kuliner beragam membuat masyarakat kerap kali nongkrong di sini.

098C1323-93F4-4CCE-81DD-A0B324400AA5-1024x683 Pesona Kuliner Kekinian di Lantai II Pasar Gede
Western menu di TFP Kopi Warung/Dokumentasi TFP Kopi Warung


Salah satu pemilik usaha kuliner di Pasar Gede Barat Lantai II, Meynar Intan, mengatakan ia dan sang rekan, Bobby Ananta, ketika kali pertama membuka TFP Kopi Warung di tempat ini masih sepi. Ini terjadi sekitar tiga tahun lalu, pada 2019. Tak bisa dimungkiri, pasar tradisional kerap identik dengan lingkungan yang kurang bersih sehingga orang enggan menyantap makanan dan nongkrong di sana.
“Awalnya saya dan Bobby mengonsep warung ini sebagai coffee shop. Seiring berjalannya waktu kopi kami sediakan camilan, lalu kami keluarkan menu makanan baru. Eh, ternyata orang ke sini enggak nyari kopi, respon pasar malah oke di makanan. Di Solo jarang ada seperti ini. Pasar itu mindset-nya makanan tradisional, maka akhirnya sekalian kami terjun di western food menyasar segmen menengah ke bawah, tapi kualitas bahan premium,” tutur Intan, Rabu (21/7/2021).
Intan bercerita ia dan Bobby sempat keliling berbagai tempat di Solo untuk dijadikan lokasi usaha kuliner mereka. Berbekal pengalaman Bobby sebagai chef di Inggris yang konsen urusan menu, sementara Intan yang andil dalam operasional sukses menyulap TFP Kopi Warung menjadi salah satu jujugan kuliner kekinian di pasar tradisional di Solo.
Tak seperti sekarang, saat membuka TFP Kopi Warung mereka harus ekstra bersih-bersih mengingat tempat ini semula tak di-setting untuk warung makan. Awalnya ia buka satu kios dan kini melebar lantaran membeludaknya pelanggan. TFP Kopi Warung buka pada pukul 10.00 WIB – 14.00 WIB. Sedangkan TFP Dinner pukul 16.00 WIB – 20.30 WIB.
Menu-menu yang disajikan warung berkonsep makanan barat (western menu) berganti setiap harinya. Mulai dari menu utama seperti creamy chicken with mushroom, mustard sauce, and apple salsa; beef and quails egg potato bake; chicken and prawn potato bake; dan breaded chicken served with slaw tomato salad and mashed potato. Ada pula toasted sandwich, aneka salad, pancakes, dan pasta. Soal harga mulai dari Rp25.000.
“Banyak yang bilang kenapa kami tidak pindah tempat, saya enggak mau, wong saya ini buka warung, bukan resto. Ini feeling-nya Bobby kenapa pilih Pasar Gede. Tempatnya unik, di tengah kota dan view bagus. Konsep kami open kitchen sehingga semua harus fresh. Di masa pandemi tentunya kami dituntut beradaptasi. Ini menjadi semacam reminder bagi kami untuk terus bersyukur dan berbenah,” imbuh mantan bankir ini.
Pandemi yang menerjang Maret 2020 hingga sekarang membuat TFP Kopi warung terus berinovasi. Mulai dari mengeluarkan aneka menu baru hingga promo setiap hari. Sebelum PPKM, ia konsisten menerapkan protokol kesehatan saat melayani makan di tempat.

098C1323-93F4-4CCE-81DD-A0B324400AA5-1024x683 Pesona Kuliner Kekinian di Lantai II Pasar Gede
Salah satu jenis minuman di Kedai Kopi Pak Agus/Dokumentasi Kedai Kopi Pak Agus

Pemilik usaha kuliner lainnya, Kedai Kopi Pak Agus, Pradewa, bercerita usaha kopinya semula memanfaatkan mobil Volkswagen Kombi yang parkir di seberang Istana Mangkunegaran pada 2018 lalu membuka kios di Pasar Gede Barat Lantai II pada 2019. Ia pun mengamini saat warung kopinya buka di pasar tradisional ini masih sepi. Namun demikian, perlahan-lahan kuliner di kawasan ini memiliki pasar tersendiri.
“Di Pasar Gede kami produksi di sini, dari green bean ke roasted bean, dan melayani langsung ke konsumen. Kami juga sekaligus edukasi soal kopi ke konsumen. Kopi yang bagus mana, cara seduh yang baik seperti apa,” ungkap Pradewa yang notabene bekerja sebagai pegawai bank ini.
Kedai Kopi Pak Agus menyediakan aneka kopi mulai dari manual brew hingga kopi susu kekinian. Ada pula roasted bean speciality coffee dari kopi Temanggung sampai Sumatera, Flores atau pun Afrika. Nama-nama aneka minuman kopi kekinian pun terbilang unik, yakni Ayah-Bunda, Aruna, Sapta, Youtopia, Kopi Susu Madhep Manthep, dan lain-lain. Sementara harga mulai Rp17.000 – Rp25.000.
Pradewa memang membidik Pasar Gede sebagai tempat usaha sekaligus turut meramaikan pasar. Apalagi Pasar Gede merupakan salah satu ikon Kota Solo. Belakangan, kalangan anak muda mendominasi pengunjung kuliner di tempat ini. Sementara pelanggannya juga banyak datang dari luar kota yang banyak membeli roasted bean produksinya.
“Ya, kami produksi sendiri sehingga mereka yang beli sudah tahu kualitasnya. Selain itu, saya juga ningkatin kompetensi anak-anak [barista] ikut pelatihan sana-sini, diskusi internal, dan lain-lain. Kami enggak boleh stagnan,” tutur dia.

098C1323-93F4-4CCE-81DD-A0B324400AA5-1024x683 Pesona Kuliner Kekinian di Lantai II Pasar Gede
Menu Pho di Vipho9/Dokumentasi Vipho9

Pemilik Vipho9, George, memilih usaha kuliner dengan menu makanan Vietnam sebagai diferensiasi. Hal ini lantaran warung makan menu Vietnam jarang sekali di Solo. Ia membuka usahanya tepat saat pandemi tahun lalu. Menu andalannya adalah Pho, yakni mie dengan irisan daging.
“Kenapa di Pasar Gede, karena ini enggak lekang oleh waktu. Kalau di mal kurang ikonik. Pasar Gede ini legend dan sangat ikonik. Saya bersyukur dapat tempat di sini. Orang juga bisa bernostalgia di sini. Apalagi di masa pandemi, kami tempatnya outdoor,” kata mantan bankir dan karyawan maskapai ini.
Berawal dari kesukaannya berkunjung ke kota-kota lama, maka Pasar Gede dianggap cocok dijadikan tempat usahanya. Selain itu, George menilai pandemi membawa berkah tersendiri lantaran menu Pho yang kaya akan rempah-rempah sangat diminati masyarakat. Ada jahe, lemon, mint, bawang putih, daun ketumbar, dan lain-lain. Tak lupa, aneka menu yang disajikan dimasak tanpa MSG. Menurutnya, setelah menyantap kuah Pho membuat badan jadi hangat karena kaya rempah.
“Sebenarnya ini sebuah tantangan tersendiri, buka saat pandemi, mana belum ada di Solo, tapi ya why not,” jelas dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *