Pengalaman Pertama Bepergian ke Luar Negeri

Bepergian ke luar negeri untuk kali pertama menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya. Apalagi perjalanan singkat berdurasi empat hari ini saya lakukan sendiri. Saya memutuskan membayar kekecewaan saya lantaran gagal bertandang ke rumah sahabat saya di pesisir pantai selatan Thailand dengan mengunjungi negeri tetangga Malaysia.

Kuala Lumpur pun menjadi pilihan sekalian berkunjung ke rumah saudara. Maka Rabu-Sabtu (25-28/9/2013) adalah waktu yang tepat untuk menengok negeri sebelah. Seharusnya saya berangkat ke Thailand Kamis (19/9/2013), via LCCT (sekarang KLIA 2), Kuala Lumpur – Alor Setar. Akan tetapi, rencana itu berubah total karena kondisi badan yang tidak memungkinkan. Setelah diundur sepekan, Rabu berikutnya perjalanan dimulai via Bandara Adi Sucipto Jogja.

Sebagian penumpang pesawat dengan tujuan KL ini adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia. Saya sempat ngobrol dengan seorang ibu asal Jogja yang telah bekerja selama lima tahun di Kuala Lumpur. Kepulangannya ke Tanah Air adalah untuk menikahkan anak perempuannya. Meski sudah berusia hampir setengah abad ia masih ingin mencari rezeki di luar yang jauh dari kampung halamannya. Bahkan, ia belum berencana kapan ia akan benar-benar pulang ke rumahnya di Jogja. Mungkin suatu hari nanti saat ibu berambut sebahu ini merasa tanggung jawabnya untuk menghidupi keluarganya di kampung sudah paripurna.

Petugas imigrasi pun menilisik lebih jauh dengan mengutarakan beberapa pertanyaan seputar kepergian saya ke KL. Maklum, paspor warna hijau milik saya itu masih benar-benar bersih. Dan ini untuk kali pertama saya mendapatkan stempel imigrasi.

1-1024x768 Pengalaman Pertama Bepergian ke Luar Negeri
Sirkuit Sepang Malaysia terlihat dari kejauhan.

Karena maskapai yang saya naiki adalah milik Malaysia segala instruksi pun berbahasa Melayu dan Inggris. Ada beberapa kata yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Sebab, jika bahasa Melayu itu disamakan dengan bahasa Indonesia artinya bisa sangat jauh.

Misalnya saja dalam bahasa Inggris sang pramugari menyebut if you need something please call our staff, tetapi jika kata-kata ini diterjemahkan dalam bahasa Melayu menjadi jika nak butuh sesuatu silakan kontak kaki tangan kami. Ungkapan kaki tangan membuat saya tertawa terbahak-bahak. Itu sekelumit perbedaan bahasa yang memang membuat kelucuan tersendiri. Akan tetapi, bagaimanapun Melayu dan Indonesia masih satu rumpun dan tentu saja bersaudara erat.

Singkat kata akhirnya saya menjejakkan kaki saya untuk kali pertama di luar Tanah Air saya. Karena ini yang pertama saya membaca dengan seksama semua petunjuk begitu mendarat di LCCT. Tujuan berikutnya adalah bagaimana saya bisa sampai di KL Sentral. Karena tak ada saudara maupun kawan yang menjemput saya di bandara. Maklum letak LCCT yang cukup jauh dari pusat kota menjadi alasan utama mengapa saya tak mungkin meminta teman saya untuk menjemput.

Dari bandara ke KL Sentral ada banyak cara untuk menempuhnya. Jika tak ingin susah payah bisa menggunakan taksi, tetapi tentunya harganya akan sangat mahal karena perjalanan ini memakan waktu sekitar 45 hingga 60 menit. Namun, jika ingin yang super murah bisa menggunakan jasa bus. Bus ini tersedia di dekat pintu keluar di area bandara. Ada beberapa jenis bus seperti aero bus ataupun sky bus, tapi jangan salah tujuan karena bus ini juga melayani penumpang tujuan KLIA alias bandara utama di KL.

Keluar dari LCCT pemandangan yang tersaji adalah kawasan perkebunan kelapa sawit. Sejauh mata memandang yang terhampar adalah sawit. Begitu keluar dari LCCT saya penasaran akan satu hal yakni mencari Sirkuit Sepang. Sayangnya, saat saya bertandang balapan MotoGP kesukaan saya belum menyambangi sirkuit ini. Sebab, balap kelas premier ini digelar di Malaysia setiap bulan Oktober. Meski saat itu masih kurang satu bulan dari penyelenggaraan MotoGP di Sepang, tetapi promosi sudah gencar dilakukan.

Alhasil saya hanya bisa melihat Sepang dari kejauhan saat itu serta menilik board bergambar empat pembalap papan atas dunia, Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, Dani Pedrosa dan tentu saja si baby alien idola saya sekaligus juara dunia MotoGP 2013, Marc Marquez.

1-1024x768 Pengalaman Pertama Bepergian ke Luar Negeri
Twin Tower KLLC di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sampai di KL Sentral, atau terminal dari segala transportasi darat di Kuala Lumpur saya terpana saking luasnya. Sistem transportasi di negeri yang menganut sistem kerajaan ini super canggih. Pelayanannya tersentral dan terintegrasi dengan baik mulai dari armada jenis bus, monorel, LRT hingga KTM. Pembayarannya pun dipermudah dengan adanya kartu elektronik. Jika tidak, bisa juga menggunakan koin yang diterima saat kita menukar uang ringgit kita dalam jumlah tertentu.

Hari beranjak malam dan saya menghabiskan hari pertama saya di ibu kota Malaysia ini dengan memandangi tarian air mancur di depan twin tower KLCC. Orkesra mengalun mengiringi lekukan air mancur yang menari-nari berpadu dengan cahaya lampu menghadirkan eksotisme tersendiri. Pada akhirnya, salah satu bucket list impian saya terwujud, pergi ke luar negeri !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *