Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan

DSCF9483-1024x576 Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan
Edy Mulyono, pembatik andalan Batik Mahkota Laweyan, tengah membikin pola, Sabtu (30/9/2017).

Kain mori putih ukuran 1×2,5 meter seketika berubah saat tangan gesit Edy Mulyono menyapukan kuas yang dicelup malam kemudian membentuk garis-garis besar tak beraturan. Dalam hitungan menit, kain putih itu sudah memiliki pola setelah lelaki berusia 61 tahun itu membatik dengan menggunakan canting rengreng yang khusus digunakan untuk membuat pola dasar pada kain. Pola-pola yang dibuatnya pun beraneka bentuk. Ada yang bergambar motif lingkaran, dedaunan, hingga mirip dengan kerang dan kupu-kupu. Hebatnya, membuat pola dasar batik ini dilakukannya tanpa sketsa.

Tak sampai 30 menit, separuh kain mori yang diletakkannya di gawangan, yakni alat untuk menyangkutkan dan membentangkan kain sewaktu dibatik, itu sudah berpola. Tak hanya rapi dan halus, pola yang dihasilkan dari aksi sekali goresan canting itu juga unik dan menarik. Ia mengandalkan pengalamannya yang sudah puluhan tahun membatik untuk nglereng atau membuat pola ornamen utama pada kain dengan spontan.

“Saya belajar membatik sejak kecil karena lahir juga dari keluarga pembatik. Ibu dari Mangkunegaran dan bapak dari Keraton Kasunan,” tuturnya, saat ditemui di Galeri Batik Mahkota Laweyan, Sabtu (30/9/2017).

Lelaki kelahiran Solo, 19 Desember 1955 ini mengaku tak pernah mengenyam pendidikan formal yang berkaitan dengan menggambar maupun mendesain khususnya batik. Keahlian itu didapat setelah sejak kecil kerap melihat sang ibu membatik. Setelah separuh kain putih itu berpola, ia kemudian meneruskannya dengan proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan menggoreskan warna tertentu.

Kali ini warna yang dipilih pembatik utama sekaligus tertua Batik Mahkota Laweyan milik Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL), Alpha Febela Priyatmono, ini adalah biru tua, merah, dan oranye kekuningan. Seperti halnya saat membuat pola di atas kain tanpa sketsa, lelaki yang selalu memakai topi pet warna hitam ini juga begitu saja menggoreskan alat dari spons untuk menuangkan warna pada kain. Tak sampai 5 menit, kain berpola itu terlihat hidup dengan polesan tiga warna tersebut.

Motif andalannya adalah abstrak tradisional. Meski terlihat spontan, sebenarnya bapak empat anak ini mengaku sudah punya gambaran dulu mau membikin seperti apa kain yang bakal dibatiknya. Akan tetapi, ini hanya sebatas pola awal selebihnya ia berimprovisasi. Namun demikian, ia mesti menjiplak gambar di atas kain terlebih dahulu jika menggarap pesanan seperti seragam atau pun menyanggit untuk baju dengan pola yang sama pada bagian depan.

DSCF9483-1024x576 Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan
Edy Mulyono, pembatik andalan Batik Mahkota Laweyan.

“Satu pekan bisa membuat empat kain batik, paling lama satu minggu jadinya kalau ada yang rumit. Kalau mau meniru silakan saja, saya tinggal bikin yang baru, soalnya satu kain dengan yang lain sudah beda motifnya,” imbuhnya, sambil menunjukkan puluhan batik hasil karyanya di showroom.

Sebenarnya ia pernah bekerja dengan menjadi desainer khusus ekspor di pabrik tekstil Kusumahadi Santosa, yakni perusahaan pengembangan Danar Hadi, selama 18 tahun. Merasa lelah dengan sistem di pabrik, ia pun memutuskan bekerja penuh di Batik Mahkota Laweyan, setelah sebelumnya nyambi sejak tahun 2000-an.

Keahliannya dalam membatik ini menular pada sang anak. Usaha sang putra cukup menjanjikan hingga kerap kebanjiran order. Sayang, lantaran bekerja terlalu keras membikin sang anak jatuh sakit kemudian meninggal dunia tiga tahun lalu. Kini dari ketiga anaknya yang lain memang tak ada yang membatik, tapi putrinya yang seorang guru membantu di galeri sepulang sekolah.

“Anak muda sekarang banyak yang enggak tertarik membatik. Padahal kalau ditekuni itu bisa bikin pabrik sendiri. Saya pernah mengajari intens satu orang selama sepekan. Setelah itu ia sudah bisa apa-apa, mulai dari mencanting sampai jadi. Ada murid saya membatik sudah bikin usaha sendiri malah lebih besar dari ini,” ungkap anggota komunitas Canting Kakung ini.

DSCF9483-1024x576 Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan
Edy Mulyono mewarnai batik setelah dicanting pertama.

Jika Edy menjadi bagian dari Batik Mahkota Laweyan sejak berdiri sekitar 2005 silam, maka Ngatmi membatik di sini sejak 2010 lalu. Perempuan berusia 50 tahun ini menempuh jarak sekitar 1 jam dari rumahnya di Plupuh, Sragen, ke Laweyan. Seperti halnya Edy, ibu empat anak ini membatik sejak kecil. Kepiawaiannya dalam memegang canting ini lantaran sang nenek juga membatik.

Peran Ngatmi di sini adalah ngiseni, memberikan motif isen-isen (isian) atau variasi pada ornamen utama yang sudah dilengreng atau dilekatkan dengan malam menggunakan canting. Perempuan yang mengaku hanya lulus sekolah dasar ini mengambil alih kain yang telah dibuat pola besarnya oleh Edy lalu mengisinya dengan berbagai motif. Siang itu ia memilih ngiseni kain batik yang didominasi warna ungu dengan garis-garis melengkung kecil-kecil.

“Kalau bikin pola juga bisa, tapi lama jadinya. Saya khusus ngiseni di sini. Sayang, anak-anak juga enggak mau membatik seperti saya kecil dulu. Mereka lebih senang dolan,” tuturnya.

Tahap ngiseni yang dilakukan perempuan selalu menggelung rambut panjangnya ke atas ini juga mengandalkan improvisasi. Ia menyesuaikan motif isian dengan ornamen utama agar padu padan. Kadang ia membuat titik-titik, garis, atau meniru bentuk berlian. Tak jarang sang pemilik batik menyodorkan padanya buku berisi beraneka motif batik atau pun buku bergambar untuk memperkaya idenya membatik.

DSCF9483-1024x576 Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan
Ngatmi sedang ngiseni atau memberi isian motif pada kain batik di Batik Mahkota Laweyan.

Ngiseninya itu pakai perasaan nanti juga gambarnya jadi,” kelakarnya.

Batik Mahkota Laweyan adalah penerus dari Batik Puspowidjoto yang berdiri sejak 1965. Batik Puspowidjoto didirikan oleh Radjiman Puspowidjoto dan Tijori. Produk unggulan pada masa itu adalah batik motif Tirto Tejo. Sempat vakum cukup lama, batik ini bangkit dan berproduksi lagi dengan memakai nama baru.

Lain halnya dengan Suripto yang justru mahir dalam urusan batik cap. Lelaki berusia lebih dari 60 tahun ini sudah 17 tahun menjadi salah satu pembatik Batik Putra Laweyan. Batik Putra Laweyan merupakan penerus Batik Bintang Mulya yang berdiri pada 1967. Ia sempat kerja di pabrik Batik Keris, tapi hanya bertahan dua tahun lantaran tak kerasan dengan tekanan dan jam kerja yang ketat.

Kepandaiannya membuat batik cap ini diperoleh dengan belajar dari sang rekan. Meski tak berurusan langsung dengan canting, tak mudah untuk mengecap kain dengan tepat. Perlu perhitungan yang matang agar cap seperti stempel yang terbuat dari tembaga dengan desain tertentu itu mengecap sempurna pada kain mori.

Tak hanya itu, bapak tiga anak ini mesti memastikan malam yang dipakai untuk cap itu memiliki kadar panas yang pas pula. Menurutnya, jika malam itu terlalu panas atau pun kurang panas, hasil capnya bakal jelek. Saat itu Suripto tengah mengecap kain dengan motif daun dengan hiasan titik-titik. Dalam sehari, ia bisa mengerjakan batik cap kain sepanjang 30 meter.

“Kalau malamnya kepanasan atau kurang panas, nantinya jelas. Saat panasnya tepat, maka malamnya langsung kering begitu kain dicap,” katanya sambil memperlihatkan bagaimana mengecap kain batik.

DSCF9483-1024x576 Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan
Suripto, pembatik cap Batik Putra Laweyan

Sedangkan Mulyani dan Sri baru tujuh tahun membatik di Batik Putra Laweyan. Semula mereka menjadi buruh di pabrik batik. Akan tetapi, belakangan pabrik itu pindah tempat yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka sehingga tak mungkin meneruskannya.

Kedua perempuan berusia 40 tahunan ini juga bisa membatik sejak kecil. Mulyani mengikuti jejak sang ibu yang juga buruh batik sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia mencanting di atas kain berpola yang sudah lebih dulu digambar oleh sang rekan, Gunawan. Menurutnya, proses membuat batik tulis halus memakan waktu sampai tiga bulan. Ini pun setelah melalui lima kali pewarnaan dan lima kali pencantingan.

“Saya sama mbak Mul memang khusus membuat batik tulis. Seperti mbak Mul, saya juga bisa membatik karena ibu,” kata perempuan berjilbab yang biasa disapa Sri.

DSCF9483-1024x576 Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan
Pembatik Batik Putra Laweyan, Mulyani (kanan) dan Sri, mencanting batik tulis.

Sang ahli pola Batik Putra Laweyan, Gunawan, punya cerita yang berbeda. Lelaki ini justru lulusan teknik mesin, jurusan otomotif, yang kemudian banting setir menjadi pemola batik. Alasannya unik, ia tak mau belepotan oli dan minyak jika bekerja di bengkel.

“Saya ambil teknik mesin itu atas saran Ibu. Sebenarnya membuat pola batik juga tidak susah karena dasarnya saya suka menggambar,” ujarnya.

Lelaki asal Sragen ini mengaku dalam sebulan bisa membikin empat pola. Menurutnya, gampang-gampang susah membikin pola di atas kertas terlebih dahulu baru kemudian dijiplak di kain. Akan tetapi, paling sulit jika ia harus membuat pola di atas kain sutra. Selain susah dihapus saat salah coret, tekstur kain yang licin membuatnya kian berhati-hati.

“Bapak di rumah juga punya usaha batik seperti ini. Kalau saya nggambar di sana dikira pengangguran, maka lebih baik saya ke Solo saja,” candanya.

Ide untuk menggambar pola menurutnya bisa dari apa saja dan mana saja. Sketsa yang kerap dikerjakannya bermotif tumbuhan maupun binatang. Akan tetapi, kelancaran dalam menggambar tergantung mood. Jika mood-nya kurang bagus, maka satu kain bisa digarap lama lantaran idenya untuk nggambar tak jua keluar.

DSCF9483-1024x576 Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan
Ahli pola Batik Putra Laweyan, Gunawan.

Sementara itu, Kepala Program Studi Kriya Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS, Tiwi Bina Affanti, menuturkan batik memang mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Tonggaknya adalah saat United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada 2 Oktober 2009 lalu. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Batik Nasional.

“Terlepas dari itu, ada pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan. Bisnis batik terus berkembang, tapi tak imbang. Tenaga pembatik khususnya tulis kian berkurang. Para pembatik itu sebagian besar sudah berusia di atas 40 tahun. Anak muda usia 25 tahun ke bawah boleh dibilang langka. Selain  upahnya relatif murah, pekerjaan ini masih dianggap kurang bergengsi,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *