Genting Highlands, Las Vegas Mini di Negeri Jiran

16 Genting Highlands, Las Vegas Mini di Negeri Jiran
Cable car di Genting Highlands

Jika berwisata ke area gunung seperti di Kabupaten Karanganyar maupun Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tentu tak jauh-jauh dari wisata alam. Jalan yang berkelok-kelok diwarnai pemandangan alam berupa tebing serta bukit-bukit di kanan kiri jalan menjadi pemandangan yang umumnya bakal kita saksikan sepanjang jalan menuju tempat yang akan dituju. Selain itu, udara sejuk hingga kelewat dingin menjadi ciri khas daerah pegunungan.

Maka yang lazimnya dituju adalah sejumlah air terjun, kebun teh ataupun kompleks candi seperti ada yang di Bumi Intanpari, julukan Karanganyar, dengan Gunung Lawu sebagai target utama. Atau jika berkunjung ke Kota Susu Boyolali, hamparan permadani hijau berupa berhektar-hektar ladang tembakau dan sayur-mayurlah yang bakal kita temui sejalan menuju Kecamatan Selo yang terletak di lereng Gunung Merapi, salah satu gunung teraktif di Indonesia.

Continue reading “Genting Highlands, Las Vegas Mini di Negeri Jiran”

Cerita dari Aceh (4): Perempuan dan Kedai Kopi

44-kopi-sanger Cerita dari Aceh (4): Perempuan dan Kedai Kopi
Kopi sanger Aceh

Aceh dan kopi adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kurang lengkap rasanya jika Anda belum merasakan duduk-duduk di warung kopi atau biasa disebut keude kupi sembari menikmati secangkir kopi asli Aceh jika sudah menginjakkan kaki di bumi Serambi Mekkah ini. Sore itu Jumat (10/5/2014) setelah pulang dari Pulau Weh, saya dan kawan-kawan tergelitik untuk mencoba kopi yang kata orang paling enak seantero Aceh. Adalah kopi Solong Ulee Kareng yang kerap menjadi buah bibir karena rasanya yang khas dan istimewa. Ulee Kareng merupakan nama salah satu kecamatan di Banda Aceh. Maka sambil menunggu bus malam yang bakal mengantar saya kembali ke Medan, ngopi menjadi hal yang tak akan terlewatkan.

“Kalau sudah sampai di Banda Aceh, jangan lupa mencoba kopi Solong Ulee Kareng. Rasanya tiada duanya,” ujar Bang Dendi, seorang teman yang mengantarkan saya berlima selama di Sabang.

Abang kelahiran Medan, Sumatra Utara ini menganjurkan kami untuk menjajal kopi Solong. Kurang afdol jika kami tidak mencicipi minuman berwarna pekat itu. Apalagi sudah sampai di sini. Maka tak perlu berpikir dua kali untuk menuruti nasihatnya, ngopi.

Continue reading “Cerita dari Aceh (4): Perempuan dan Kedai Kopi”

Cerita dari Aceh (3): Tidur Siang di Sabang

37-sabang Cerita dari Aceh (3): Tidur Siang di Sabang
Kota Sabang, Pulau Weh

Bertempat tinggal di Kota Solo bagi saya sudah merupakan sebuah ritme kehidupan yang cukup lambat. Kota yang terbagi dalam lima kecamatan ini tak suka terburu-buru seperti Kota Metropolis macam Jakarta atau Surabaya. Semua yang ada di Kota Bengawan ini sudah cukup slow terutama bagi para pelancong dari luar kota. Namun, menginjakkan kaki di Banda Aceh pada Selasa (7/5/2014) lalu menyeberang ke Pulau paling Utara Indonesia, Pulau Weh, roda kehidupan seakan berjalan sangat pelan. Bahkan dua kali lipat lebih lambat dari tempat saya tinggal.

Menjejakkan kaki di Pulau Weh rasanya benar-benar tak bisa terlukiskan. Ada rasa haru campur bahagia karena kini saya bisa sedikit menggenapi lagu kebangsaan Dari Sabang sampai Merauke. Akhirnya tiba juga di Kota Sabang, wilayah negeri bernama Indonesia ini dimulai. Saya dan keempat kawan serta satu keluarga baru langsung tancap gas mencari warung makan. Maklum sampai di Pelabuhan Balohan memang sudah siang dan tepat waktunya untuk memberikan hak perut yang keroncongan.

Continue reading “Cerita dari Aceh (3): Tidur Siang di Sabang”

Cerita dari Aceh (2): Selera Pedas di Tanah Rencong

f4236-32miekepiting Cerita dari Aceh (2): Selera Pedas di Tanah Rencong
Mie kepiting Aceh

Sudah sampai di Banda Aceh tentunya sayang jika melewatkan makanan khas bumi Serambi Mekah ini. Seperti pada umumnya masakan khas Sumatra, Aceh juga identik dengan olahan pedasnya. Namun, jika lidah Anda tak suka dengan lombok seperti saya, bersiaplah air mineral di samping Anda karena masakan yang ada hampir semuanya pedas.

Masakan yang harus dicoba tentu saja Mie Aceh. Olahan mie ini memang sudah tak asing lagi di telinga. Maklum, mereka orang Aceh yang merantau jauh dari tanah kelahirannya berperan penting menyebarkan virus makanan Aceh ke tanah Jawa. Bahkan, warung di belakang kampus saya di Solo pun menyuguhkan Mie Aceh sebagai sajian utamanya. Menginjakkan kaki di kota yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka ini memang harus siap berpedas ria. Saya termasuk orang yang tak bersahabat dengan makanan pedas pun harus pasrah saat ketiga kawan seperjalanan serta dua teman Aceh saya memilih tentu saja Mie Aceh menjadi santapan di malam perdana kami di Serambi Mekah.

Continue reading “Cerita dari Aceh (2): Selera Pedas di Tanah Rencong”

Cerita dari Aceh (1): Jejak Tsunami di Serambi Mekah

935482_10200587762130486_1051668009_n Cerita dari Aceh (1): Jejak Tsunami di Serambi Mekah
Masjid Baiturrahman Aceh

Saat bencana tsunami melanda Aceh, saya masih duduk di bangku SMA. Saya hanya mampu ternganga dan menatap pilu bagian dari bumi Indonesia yang tengah diterpa bencana superdahsyat yang meluluhlantahkan lebih dari separuh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini pada tahun 2004 silam. Saya tak bisa membayangkan betapa pilu dan menderitanya saudara se-Tanah Air saat itu. Selain berdoa untuk keselamatan mereka, saya dan beberapa teman pun membantu lewat uang saku yang kami sisihkan melalui sebuah rekening salah satu stasiun televisi swasta. Meskipun tak seberapa, minimal kami membantu semampu kami.

Setelah sembilan tahun berlalu, Tuhan memperkenankan saya menapakkan kaki di bumi Serambi Mekkah ini tepatnya di Banda Aceh. Tempat-tempat yang menjadi saksi ganasnya tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 membawa saya dan empat kawan saya mendamparkan diri di provinsi paling barat Indonesia ini. Tepatnya, Mei 2013 lalu kami berkesempatan untuk menjadi saksi sisa-sisa betapa Maha Kuasanya Tuhan yang menciptakan bumi dan seisinya ini.

Continue reading “Cerita dari Aceh (1): Jejak Tsunami di Serambi Mekah”

Permintaan Anak-Anak di Ritual Potong Rambut Gimbal Dieng

30 Permintaan Anak-Anak di Ritual Potong Rambut Gimbal Dieng
Ritual potong rambut gimbal di Dieng

Alira, gadis kecil berusia tiga tahun itu bergelayut mesra di pangkuan sang ibu. Sekilas tak ada yang berbeda dengan gadis cilik ini. Namun, pagi itu Minggu (30/6/2013), merupakan hari yang bersejarah bagi si kecil Alira. Gadis kecil berkulit sawo matang ini sangat istimewa bagi masyarakat Dieng, sebuah kawasan dataran tinggi yang terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, di Jawa Tengah.

Saat lahir, ia sama dengan bayi lainnya. Namun, suatu ketika Alira mengalami demam tinggi. Pasca kejadian itu rambutnya yang lurus menjadi gimbal. Bukan Alira saja yang mendapatkan keistimewaan ini. Anak berambut gimbal merupakan satu aset yang amat berharga di wilayah ini. Warga Dieng percaya bahwa anak-anak berambut gimbal merupakan keturunan dari leluhur pendiri Dieng dan ada makhluk gaib yang menjaga mereka.

Rambut gimbal bukanlah genetik yang bisa diwariskan secara turun temurun. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan dan siapa anak yang akan menerima anugerah ini. Konon leluhur Dieng, Ki Ageng Kaladite berpesan agar masyarakat setempat senantiasa menjaga anak yang memiliki rambut gimbal ini.

Continue reading “Permintaan Anak-Anak di Ritual Potong Rambut Gimbal Dieng”

Efek Filippo Inzaghi

pippo-coach-4 Efek Filippo Inzaghi
Filippo Inzaghi

Saya tidak tahu bagaimana awalnya saya jatuh cinta dengan sepak bola. Sebab, tak ada darah penggila bola apalagi pemain bola dalam keluarga besar saya. Bapak yang seorang guru tak suka olahraga ini dan lebih senang mendengarkan langgam Jawa dan teman-temannya, sementara ibu lebih suka membaca buku berbahasa Jawa dan sejenisnya.

Seingat saya olahraga yang identik dengan lelaki ini saya kenal sejak duduk di bangku SD. Namun, bola resmi menjadi bagian dari hidup saya setelah naik ke level SMP. Adalah teman-teman lelaki saya yang setiap awal pekan selalu asik mengobrol tentang olahraga yang membutuhkan 11 orang demi memperebutkan satu bola di lapangan hijau berumput ini.

Lantaran ingin ikutan nimbrung, maka sedikit demi sedikit mulai melihat siaran bola berdurasi 2 x 45 menit di salah satu televisi swasta yang saat itu moncer dengan menyiarkan berbagai pertandingan Seri A Italia. Saat itu tahun 1990-an Liga Premier Inggris belum setenar seperti sekarang. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab mengapa saya jatuh hati pada tim Italia yang berkompetisi di level Serie A. Continue reading “Efek Filippo Inzaghi”