Menonton Legenda Milan, Kenapa Tidak?

Saya memang bukan penyuka klub sepak bola asal Kota Milan, Italia ini. Saya lebih jatuh cinta pada klub berseragam hitam putih dari Kota Turin, Italia, Juventus. Namun, hadirnya dua jenderal lapangan hijau yang moncer pada masanya membuat saya penasaran ingin melihat aksi mereka di usianya yang sudah tak lagi muda. Paolo Maldini, Andriy Shevcenko adalah dua nama besar yang sempat memperkuat Milan. Kepiawaian mereka dalam mengocek si kulit bundar membuat saya rela bangun dini hari atau tidur terlalu malam demi melihat aksi mereka mengeksekusi bola saat saya masih duduk di bangku SMP dulu. Tapi tetap saja idola saya, Filippo Inzaghi.

Saya pun nekat kabur ke Jakarta demi melihat wujud asli dua makhluk ajaib itu. Sekali lagi bukan karena saya Milanisti. Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Sabtu (9/2/2013) sore sudah penuh sesak dengan lautan Milanisti. Mereka banyak memakai atribut khas Rossoneri. Namun, karena lagi-lagi saya bukan penggila tim pengoleksi 18 kali gelar tahta Seri A dan 5 kali Piala Italia ini, saya cukup memakai pakaian tanpa atribut, hahaha. Jersey Italia yang saya bawa sengaja tidak dipakai karena ukurannya cukup besar untuk badan saya.

Hasil akhir pertandingan Milan Glorie versus Indonesia All Star Legends memang sudah bisa ditebak. Milan Glorie membungkus kemenangan dengan skor  4-2 pada laga persahabatan ini. Gol Milan masing-masing dicetak Andriy Shevchenko, Mauricio Ganz dan dua gol dari Serginho. Sementara dua gol balasan Indonesia dicetak pesepak bola kebanggaan Merah Putih, Bambang Pamungkas atau yang lebih akrab dipanggil Bepe.

Saya kira ketika tim luar negeri menyambangi Indonesia lalu bertanding maka aroma Indonesia hilang dari arena pertandingan. Stadion dipenuhi dengan mereka yang beratribut lengkap fans tim terkenal yang tengah bertanding di lapangan. Bukan Indonesia Raya yang bergemuruh di seantero stadion tetapi yel-yel, nyanyian serta selebrasi khas tim-tim papan atas dunia itu. Milanisti Indonesia pun juga melakukannya sore itu. Akan tetapi, saya yakin jiwa Indonesia mereka tak akan luntur, tetap Merah Putih.

Dari lapangan hijau ketika laga baru berjalan 16 menit, Milan mencetak gol lewat aksi Solo, Serginho. Gol cepatnya dari sudut kanan gawang tak bisa ditepis Hendro Kartiko. Di menit ke-35 Bepe membuka asa bagi Merah Putih dengan sukses menyelesaikan umpan lambung yang didapatnya menjadi sebuah gol. Kapten Timnas Indonesia ini menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Namun bukannya tepuk tangan penonton yang didapatkan ikon klub Persija Jakarta ini justru umpatan dan sorakan keras. Rakyat Indonesia berubah jadi Italia, hahaha.

9 Menonton Legenda Milan, Kenapa Tidak?
Kemeriahan penonton saat menyaksikan Milan Glorie di GBK

“Huuuuuuhuuuuuu, apaan itu. Bepe ke laut aje,” sorak salah satu Milanisti di bangku penonton.

Tak heran ucapan semacam ini ramai terdengar. Bagaimana tidak, Bepe yang mendaulatkan diri sebagai seorang Interisti tengah berada di lautan manusia yang berdarah Rossoneri. Ia ini seperti tengah masuk di kandang macan seorang diri.

Pendukung La Beneamata ini sempat beberapa kali mengancam gawang Milan Glorie yang dijaga Taibi. Tepukan tangan yang ada seakan tenggelam di antara riuhnya sorakan bernada miring yang dialamatkan kepada pemain yang bergabung dengan skuat Macan Kemayoran sejak tahun 1999 itu.

Milan Glorie kembali unggul lewat tendangan kaki kanan Andriy Shevchenko. Indonesia All Star berhasil menyusul pada babak kedua lagi-lagi oleh Bepe di menit ke-63. Sang Interisti ini mencetak gol dengan sundulan hasil umpan dari Gusnaedi. Untuk kesekian kalinya stadion bergemuruh. Bukannya senang karena Indonesia bisa mengatasi perlawanan para pemain veteran ini tetapi malah menyoraki pahlawan di lapangan hijau itu seolah-olah ia musuh yang harus dihabisi.

Pertandingan berakhir dengan kemenangan Maldini dkk setelah Mauricio Ganz menambah pundi-pundi gol Milan di menit ke-70. Serginho memastikan diri melesakkan gol keduanya sebelum pertandingan usai. Milan Glorie pun melumat Indonesia All Star Legends 4-2.

Namun, yang mendapat sorakan sore itu bukan hanya pemain bernomor punggung 20 itu. Bahkan, Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, saat itu pun turut menjadi sasaran umpatan. Ia sempat tampil di depan saat pihak Milan menyerahkan sumbangan untuk pembinaan persepakbolaan di Tanah Air. Mereka yang memenuhi stadion kompak menyerukan nada ejekan. Ini pun berlanjut setelah pertandingan usai. Para suporter melewati sang menteri begitu saja saat Politisi Partai Demokrat itu tengah wawancara dengan serombongan perwarta.

9 Menonton Legenda Milan, Kenapa Tidak?
Para Milanistis di GBK

Saya senang bisa melihat dua sosok yang saya kagumi itu kembali beraksi bersama si kulit bundar. Seandainya saja sang mantan bek Milan, Alessandro Nesta bisa turut serta pasti lebih komplet. Pemain yang mempunyai nomor punggung 13 selama bermain di Rossoneri ini selalu bertanggung jawab penuh menjalankan tugasnya sebagai seorang defender dan melakoni tugasnya menjadi caps sebanyak 224 kali.

Saya berdoa penuh agar suatu saat nanti bisa menjejakkan kaki di bumi Italia. Melihat kemegahan La Vecchia Signora yang berdiri sejak 1897 itu di Kota Turin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *