Kampung Kemlayan, Gudangnya Seniman Keraton Solo

2017_0902_13160800 Kampung Kemlayan, Gudangnya Seniman Keraton Solo
Dalem Projoloekitan, di Kemlayan, Serengan, Solo, adalah rumah peninggalan dari seorang arsitek keraton Kasunanan Surakarta dan telah berdiri sejak 1874.

Kampung Kemlayan, di Kecamatan Serengan, Kota Solo, ternyata memiliki sejarah panjang mengenai perkembangan seni tari dan musik tradisional Kota Solo. Akan tetapi, keberadaannya terancam lantaran mesti bersaing dengan kemajuan ekonomi bisnis mengingat wilayah ini terletak di antara kepungan pusat perbelanjaan di kawasan Singosaren dan Coyudan.

Maka dari itu, upaya untuk mempertahankan serta melestarikan kawasan bersejarah inilah yang mencoba untuk dilakukan melalui Gelar Potensi Wisata Kampung Kota yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata (Disparta) Solo bersama Laku Lampah, Solo Creative City, dan Bening Arts Management, Sabtu-Minggu (2-3/9/2017) lalu.

Sebagai usaha untuk menjual wisata sejarah kampung, Disparta menggandeng sejumlah pihak untuk memperkenalkan lebih jauh kepada publik mengenai Kemlayan. Tur wisata sejarah kampung ini diikuti oleh puluhan orang dari berbagai kota. Ada dua kampung yang dipertontonkan, yakni Kemlayan dan Kepatihan.

“Semula kampung ini [Kemlayan] bernama Desa Mlaya yang merupakan tempat tinggal para seniman pemain gamelan Keraton Kasunanan Surakarta. Nama-nama seniman besar pengrawit lahir di sini,” tutur sejarawan Heri Priyatmoko, saat memaparkan sejarah singkat Kampung Kemlayan, di Ndalem Handoyoningrat, Sabtu (2/9/2017).

Akademisi Universitas Sanata Dharma ini kemudian menyebut nama-nama empu pangrawit yang lahir di Kemlayan. Setidaknya ada enam tokoh yang disegani dan berpengaruh di Kemlayan, yakni K.R.T. Warsodiningrat, Mlayawidada, S. Ngaliman, Hardiman Sindhuatmadja, Sutidja Tedjapangrawit, dan Yosopradangga.

K.R.T Warsodiningrat selain mengarang Serat Wedhapradangga juga menjadi petindih yakni jabatan selevel kepala daerah yag memimpin suatu kelompok petugas di lingkungan istana. Sedangkan Mlayawidada adalah empu karawitan kondang, S Ngaliman merupakan empu tari terkemuka, Hardiman abdi dalem plus guru tari, Sutidja Tedjapangrawit seorang niyaga dan penari, sementara Yosoprangga seorang ahli membuat gamelan dan merawat gamelan sekaten.

Bahkan, hingga kini sejumlah dalem peninggalan para empu ini masih dipakai untuk menghidupkan kesenian tradisional, seperti menabuh gamelan dan menari. Peserta tur pun diajak mengunjungi tempat yang menjadi saksi lahirnya para seniman.

“Ini baru permulaan untuk menjadikan pilot project pengembangan wisata kampung di Solo,’’ tutur salah satu penggagas acara, Fafa Utami.

2017_0902_13160800 Kampung Kemlayan, Gudangnya Seniman Keraton Solo
Salah satu bagian dari Dalem Projoloekitan di Kemlayan, Solo.

Rombongan ini pertama mendatangi Dalem Handoyoningrat yang dahulu pernah ditinggali selir Mangkunegara VII pada 1811. Akan tetapi, pada 1997 rumah ini dibeli oleh  Sardono W. Kusumo, penari, sutradara, dan koreografer kondang. Tokoh tari kontemporer Indonesia ini lalu memfungsikan tempat ini sebagai sarana berkreasi, pementasan, dan pembelajaran Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Setelah itu rombongan beranjak ke rumah Gan Kam. Gan Kam adalah seorang pengusaha Tiongkok atas izin Mangkunegara mendirikan rombongan wayang orang profesional pertama di Solo pada 1895. Kunjungan berikutnya ke rumah Abdul Fattah. Uniknya rumah ini tak bergaya joglo melainkan Hindia Belanda. Rumah ini dibangun  oleh Abdul Fattah pada 1830.

Tak lupa rombongan singgah ke Dalem Roesradiwidjoyo lalu perjalanan dilanjutkan ke sumur Bandung, sumur Ngampok, dan sumur Kamulyan. Konon sumur ini merupakan cikal bakal kampung Kemlayan yang dulunya sengaja dibuat untuk tempat mengambil air wudu Paku Buwono IV. Tur pun berakhir di Dalem Prodjoloekitan.

“Kemlayan ini potensi hilang karena letaknya di tengah kota. Padahal ini merupakan kampung seni. Semestinya bisa dihidupkan lagi. Sayangnya, Solo belum siap sepenuhnya untuk menjual wisata kampung maupun menerima wisatawan seperti ini. Kami ingin pihak-pihak bisa lebih berperan penting untuk menyelamatkan kampung ini, seperti kelompok sadar wisata [Pokdarwis], kelurahan, hingga dinas terkait,” jelas pegiat komunitas wisata histori Laku Lampah, Fendy Fawzy Alfiansyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *