Gara-Gara Murah, Nama Menu Unik, dan Panggilan Aa’, Burjo Menjamur di Solo

Warung bubur kacang hijau (Burjo) yang menjamur di Yogyakarta sukses melebarkan sayapnya ke Soloraya setahun terakhir. Adalah area kampus yang kerap menjadi tempat strategis berdirinya Burjo yang belakangan justru tak lagi berjualan bubur kacang hijau. Meski beberapa kekhasan Burjo masih bertahan. Mulai dari kebanyakan pemilik dan penjual Burjo berasal dari Kuningan, Jawa Barat; akronim menu yang unik; hingga harga yang sangat terjangkau khususnya untuk dompet mahasiswa.

“Kalau jajan di Burjo yang pertama pasti harganya murah terjangkau anak kos. Saya jadi bisa makan tiga kali sehari,” tutur mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Fahira, Jumat (12/4/2019).

Fahira menyebut puluhan Burjo kini ada di kampusnya. Namun demikian, ada beberapa Burjo yang cukup hits di kalangan mahasiswa. Meskipun begitu, rata-rata menu yang dijual Burjo ini relatif sama dan harganya juga enggak jauh beda satu sama lain. Menurutnya, ia dan teman-temannya memilih satu Burjo tertentu lantaran masakan dan tempatnya asik untuk nongkrong.

Gadis asal Purworejo ini bercerita ia kerap memesan mie dok-dok. Ini adalah salah satu menu khas Burjo. Menu ini berbahan dasar mie instan biasa, tapi kemudian dimasak dengan aneka bumbu tambahan seperti, garam, gula, merica ubuk, saos sambal, saus tomat, kecap, plus telur orak-arik. Menurutnya, Burjo seringkali menjadi jujugan untuk makan sehari-hari selain warung makan biasa dengan konsep Pokwe (jupuk dewe dalam bahasa Jawa atau ambil sendiri).

burjo4 Gara-Gara Murah, Nama Menu Unik, dan Panggilan Aa', Burjo Menjamur di Solo
Aneka minuman yang dijual di Burjo.

Lain halnya dengan Bagas. Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UNS ini menilai makan di Burjo adalah yang paling aman dan ekonomis. Hal ini berlaku entah saat uang sakunya masih banyak atau pun tinggal sedikit.

“Jelas lagi ada duit atau enggak, makannya tetap Burjo. Aman kalau makan di Burjo. Maka dari itu, main kemana aja carinya Burjo, jelas ekonomis [murah],” kelakar pemuda yang kerap makan menu Magelangan di Burjo ini.

Bagas mengaku sekali makan di Burjo, ia cukup merogoh kocek Rp12.000-an. Dengan uang segitu, ia sudah bisa menikmati menu Magelangan, yakni nasi goreng yang dicampur dengan mie, atau nasi mawut, plus es teh. Selain perut kenyang, ia kerap berlama-lama di Burjo karena dari segi tempat cukup enak untuk nongkrong bersama teman-temannya.  

Sementara Ari dulu hampir setiap hari makan di Burjo saat masih duduk di bangku kuliah. Sarjana jebolan Universitas Islam Indonesia (UII) menilai Burjo di Yogyakarta dengan di Solo cukup berbeda, meskipun dalam hal menu rata-rata sama. Ia memilih menuntaskan rasa laparnya di Burjo karena menunya yang cukup variatif, penjual yang melayani rata-rata masih muda, ada televisi, warungnya cukup luas, dan yang terpenting harganya murah.

“Tentu rasa masakan berbeda meski menunya sama. Selain itu, tempatnya juga berpengaruh. Hal yang terpenting adalah penjualnya. Biasanya kalau yang jual anak muda lalu ramah, pasti ramai. Kalau di Jogja begitu. Bedanya ya suasananya dengan di Solo,” ujar karyawan swasta yang kini bekerja di Solo.

Di sisi lain, tak dapat dipungkiri warung Burjo mengalami metamorfosis. Pada awalnya, warung Burjo yang dikuasai penjual asal Kuningan, Jawa Barat, benar-benar menjual bubur kacang hijau, tapi sekarang justru jarang ditemukan burjo dan tergantikan mie instan (Warmindo), nasi sayur dan menu lain seperti umumnya warung makan.

burjo4 Gara-Gara Murah, Nama Menu Unik, dan Panggilan Aa', Burjo Menjamur di Solo
Nasi Orak-Arik khas menu Burjo.

“Dari awal buka, Burjo ini enggak jual bubur kacang ijo, teh. Kalau bikin Burjo cepat basi, lalu yang mau juga sedikit,” tutur penjual Burjo Kedai Lezat (KLZ) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rosyidin.

Rosyidin yang kerap disapa aa’ Idin ini mengaku baru setahun tinggal di Solo dengan menjadi karyawan Burjo milik orang asal Jepara. Tugasnya komplet, mulai dari belanja kebutuhan untuk warung Burjo di pasar, kemudian memasak, dan melayani pembeli. Bahkan, semula ia tidak bisa memasak. Kemampuannya memasak aneka sayur hingga menggoreng mendoan didapatnya secara otodidak plus belajar dari teman.

Menurutnya, aneka menu pada Burjo ini sudah ada sejak kali pertama warung ini buka tahun lalu. Sejumlah menu khas Burjo ada, mulai dari Indomie telur (Intel) rebus, Indomie tanpa telur (Tante) rebus,  Indomie telur (Intel) goreng, Indomie tanpa telur (Tante) goreng, nasi ayam, nasi sarden, Magelangan, nasi telur, dan mie dokdok. Harganya mulai dari Rp5.000 hingga Rp9.000. Sementara untuk minumannya ada es teh, es jeruk, aneka kopi instan, dan cokelat. Ya, hampir semua Burjo menuliskan menunya dalam akronim yang menarik. Belakangan, warung Burjo pun meninggalkan burjonya.

Lelaki asal Kuningan, Jawa Barat, ini bercerita di tempat asalnya justru jarang ada warung Burjo. Mereka kebanyakan merantau lalu membuat bisnis Burjo atau bekerja di warung Burjo. Daerah favorit rekan-rekannya adalah Yogyakarta baru Solo. Belakangan, warung Burjo ini merembet ke Solo sehingga membuatnya turut merantau ke Kota Bengawan ini.

Jika dihitung, penghasilan kotor Burjo ini mencapai Rp1,5 juta dalam sehari. Rata-rata warung Burjo tersebut buka 24 jam. Ia bekerja bersama tiga rekannya yang juga asal Kuningan, Jawa Barat. Ini terbagi menjadi dua shift sehingga setiap shift-nya ada dua karyawan.

“Burjo masih ada sama bubur ketan hitam, tapi saya masaknya sedikit aja,” tutur karyawan Burjo Sumber Rejeki, Deni.

burjo4 Gara-Gara Murah, Nama Menu Unik, dan Panggilan Aa', Burjo Menjamur di Solo
Menu andalan Burjo, Indomie telur (Intel) goreng.

Seperti halnya Idin, Deni juga berperan penting demi keberlangsungan Burjo tersebut. Setiap pagi tugasnya belanja aneka bahan makanan di pasar, lalu memasak sayur pokok seperti oseng tempe kacang panjang, sarden, telur balado, dan orak-arik. Namun demikian, ia mengakui menu burjo tak banyak yang meminati. Pelanggannya lebih suka memesan nasi dengan sayur, telur, atau pun sarden dan tentunya mie instan.

Lelaki asal Jawa Barat ini menambahkan ia bekerja di warung Burjo milik saudaranya ini sejak setahun lalu. Menurutnya, saudaranya tersebut total memiliki empat warung Burjo yang tersebar di area kampus, yakni UMS dan UNS.

“Emang harga bahan pokok kadang naik, misalnya telor. Tapi, kami enggak bisa asal naikin harga menu. Saingannya [Burjo] sekarang banyak, jadi berkahnya dibagi-bagi,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *