Ekspansi Generasi Ketiga Kusuma Sari Solo, Dari Rumah Makan ke Mal

Tak ada yang meragukan kenikmatan menu-menu klasik fusions Jawa Belanda buatan rumah makan (RM) Kusuma Sari yang terletak tepat di perempatan Nonongan, di Jalan Brigjend Slamet Riyadi no 111, Kemlayan, Serengan, Solo. Maklum, rumah makan yang semula berawal dari usaha katering yang berdiri sejak 1970 ini masih eksis di tengah perkembangan zaman dengan munculnya berbagai variasi makanan kekinian.

Sebut saja menu seperti kroket, selat segar, steak galantin, sup mekarsari, sup galantin, stoop macaroni, hingga es krim, yang jadi andalan rumah makan yang didirikan oleh Sugiyarti Waluyo Kusumo atau lebih dikenal dengan Bu Menggung pada 1990-an silam. Di tangan generasi ketiga, Kusuma Sari pun terus berinovasi dan semakin membuka diri. Ekspansi pun dilakukan untuk kali pertama oleh dua cucu Bu Menggung, Herwita Titi Sekartaji dan Endah Trisnowati, sebagai pewaris dengan membuka tenant di mal. Antara lain, di Food Park lantai 2 The Park Mall Solo Baru,  Food Factory Solo Paragon Mall, dan Solo Square. 

Salah satu pewaris RM Kusuma Sari, Endah Trisnowati, bercerita tak mudah meyakinkan keluarga besar serta jajaran komisaris untuk mengembangkan rumah makan warisan ini di tempat lain. Mereka sempat khawatir jika salah satu kuliner legendaris Solo yang berada di Nonongan ini bakal sepi seandainya Kusuma Sari buka cabang.

“Kurang lebih satu tahun kami usul akan pengembangan ini sehingga komisaris legawa agar kami membuka yang baru. Kami modal nekat. Apalagi zaman sekarang banyak keuntungan yang bakal diperoleh dengan menempatkannya [tenant] di mal. Selama hampir sebulan, kami berhasil mendatangkan lebih banyak pelanggan. Selain itu, kami sudah punya nama sehingga masyarakat langsung tahu,” tutur cucu Bu Menggung, beberapa waktu lalu.

Dari Bu Menggung, Kusuma Sari yang menyajikan beragam hidangan khas Jawa yang kental akan pengaruh Belanda, Eropa, ini kemudian dipegang oleh dua anaknya, yakni Bambang Sarosa dan Endang Sariningsih. Bu Menggung juga merupakan ibu dari Sardono Waluyo Kusumo, sang maestro tari, sutradara film, dan koreografer kenamaan Indonesia. Setelah itu operasional Kusuma Sari diwariskan kepada generasi ketiga, Endah yang merupakan anak dari generasi kedua, Endang Sariningsih, dan Tita, putri Bambang Sarosa.

Herwita Titi Sekartaji yang akrab disapa Tita mengakui tak mudah untuk menjaga usaha warisan keluarga ini. Tita pun optimistis Kusuma Sari tak akan ditinggal pelanggan lantaran mereka berkomitmen untuk menjaga kualitas rasa serta bahan-bahan yang dijadikan hidangan rumah makan ini. Ini pun sudah dibuktikan dengan bertahannya rumah makan ini selama kurang lebih 20 tahun. Tak hanya pemilik yang terus estafet hingga ke generasi ketiga, urusan dapur pun juga mengalami regenerasi.

“Kualitas rasa dan bahan-bahan untuk hidangan terus kami jaga. Jika harga bahan baku naik, kami tak akan mengurangi porsi maupun kualitasnya. Maka, harga yang menyesuaikan, tapi pelanggan tak akan menyesal karena rasanya terjaga,” ujar perempuan berkacamata ini.

Tiga menu utama pun jadi idola customer, yakni kroket, selat, dan sup. Demi menjangkau pelanggan khususnya dari luar Kota Solo, hidangan favorit ini bisa dicicipi di Food Park The Park Mall Solo Baru, Solo Paragon Mall, maupun Solo Square. Adapun menu-menu andalannya adalah selat segar, selat galantin, steak galantin, steak lapis, steak daging, dan steak lidah. Tak lupa ada stoop macaroni, spageti kuah hingga dessert es krim Kusuma Sari.

IMG_6758-1 Ekspansi Generasi Ketiga Kusuma Sari Solo, Dari Rumah Makan ke Mal
Aneka menu RM Kusuma Sari Solo.

Customer Service Manager Kusuma Sari, Kossafitri, tak segan berbagi resep hidangan andalan ini. Perempuan yang sudah 30 tahun menangani katering Kusuma Sari ini bercerita sebenarnya Bu Menggung itu tidak bisa memasak. Adalah mbah Atmo, juru masaknya yang konon merupakan mantan koki Keraton Kasunanan Solo-lah yang membuat menu-menu ini. Resep ini kemudian diturunkan hingga sekarang juga dipegang generasi ketiga.

“Makanya menu-menu yang disajikan itu adalah sajian Keraton Solo,” ujarnya.

Jika di Indonesia biasanya kroket dibuat dari bahan utama kentang, kroket Kusuma Sari dibikin seperti menu aslinya dari Belanda, Croquette, yakni berbahan ragut, ayam, dan telur dengan bumbu utama seperti bawang dan merica. 

Sementara sajian fusi Belanda Jawa, selat ini berisi sayuran seperti buncis, kentang, timun, selada, dan tomat. Ada dua pilihan untuk daging sapinya, selat segar dengan potongan daging, sementara selat galantin berisi olahan daging. Selat ini dilengkapi dengan saus yang tak terlalu manis dan cocolan yang disebut magelang. Fitri menyebut magelang ini bukanlah mayones yang acap ada pada sajian selat, tetapi dari tepung dicampur dengan margarin dan tanpa kuning telur.

Sedangkan stoop macaroni berbahan makaroni dan ayam kampung ditambah susu, telur, margarin. Sedangkan sup mekarsari berisi daging ayam giling, jamur putih, jamur hitam, sosis, dan telur. Sementara kuahnya dengan kaldu ayam kampung dengan bumbu dasar bawang putih digeprek dan merica. Menu steak galantin pun berisi daging sapi giling dengan potongan aneka sayur seperti wortel, kentang, tomat, kacang polong, selada ditambah potongan telur ayam rebus, dan mayones. Kuahnya dari kaldu sapi dengan bumbu bawang serta margarin. Sementara nasi goreng berbahan nasi dengan seasoning bawang dan cabai serta pelengkap seperti ayam, udang, lalu keju.

“Kami pakainya ayam kampung bukan ayam boiler karena rasa dan kualitasnya akan berbeda. Sup misalnya, bawang putih tidak diuleg, tapi digeprek dan disaring sehingga kuahnya bening,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *