Efek Filippo Inzaghi

pippo-coach-4 Efek Filippo Inzaghi
Filippo Inzaghi

Saya tidak tahu bagaimana awalnya saya jatuh cinta dengan sepak bola. Sebab, tak ada darah penggila bola apalagi pemain bola dalam keluarga besar saya. Bapak yang seorang guru tak suka olahraga ini dan lebih senang mendengarkan langgam Jawa dan teman-temannya, sementara ibu lebih suka membaca buku berbahasa Jawa dan sejenisnya.

Seingat saya olahraga yang identik dengan lelaki ini saya kenal sejak duduk di bangku SD. Namun, bola resmi menjadi bagian dari hidup saya setelah naik ke level SMP. Adalah teman-teman lelaki saya yang setiap awal pekan selalu asik mengobrol tentang olahraga yang membutuhkan 11 orang demi memperebutkan satu bola di lapangan hijau berumput ini.

Lantaran ingin ikutan nimbrung, maka sedikit demi sedikit mulai melihat siaran bola berdurasi 2 x 45 menit di salah satu televisi swasta yang saat itu moncer dengan menyiarkan berbagai pertandingan Seri A Italia. Saat itu tahun 1990-an Liga Premier Inggris belum setenar seperti sekarang. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab mengapa saya jatuh hati pada tim Italia yang berkompetisi di level Serie A.

Ketika kawan-kawan saya sibuk mengunggulkan AC Milan, Lazio dan Roma, saya justru kesengsem dengan Juventus. Tak dapat dipungkiri rasa suka ini bermula dari sosok ganteng sang striker, Filippo Inzaghi, yang saat itu masih berseragam La Vecchia Signora. Bahkan, demi mendapatkan foto serta stiker pemain bernomor punggung 9 itu saya mesti menabung dengan keras untuk membelinya. Sayangnya, foto serta stiker itu berakhir di tempat sampah karena ibu menyobeknya setelah mendapati gambar-gambar itu menempel di dinding kamar saya.

Kegilaan itu ternyata melebar, tak hanya mengenal sosok Pippo yang berseragam Juventus, tapi menjalar hingga ke tim-tim tetangga. Maka saya mulai berkenalan dengan Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Andriy Shevchencko, Oliver Bierhoff, Gabriel Batistuta Christian Vieri, Hernan Crespo, Francesco Totti, Vicenzo Montella, dkk.

Lantaran saat itu demi memperoleh majalah Liga Italia yang diterbitkan sebuah media televisi sebulan sekali seharga Rp20.000, saya rela habis-habisan super duper ngirit. Harga ini benar-benar mencekik leher saya yang berstatus murid SMP yang hanya memiliki uang saku Rp2.000 per harinya. Apesnya, semua majalah itu entah kabur kemana. Begitu juga dengan poster-poster bintang lapangan hijau yang kerap kali menjadi bonus majalah ini.

Selain mengagumi Pippo saya sedikit melirik ke salah satu pemain tim biru langit, Lazio, Pavel Nedved dan sang kapten Milan, Alessandro Nesta. Nedved karena berambut pirang, sedang Nesta karena kepiawainnya sebagai defender terbaik di masanya. Saya pun sempat bermimpi andai Nedved bisa diboyong ke Delle Alpi, markas Juventus saat itu.

Juventus (1897) yang merupakan tim tertua kedua di Italia setelah Genoa (1893) sudah mengantongi scudetto untuk kali ke-24 di musim 1996/1997. Dominasinya masih berlanjut hingga semusim berikutnya, 1997/1998. Tiga musim setelahnya, Bianconeri mesti puasa scudetto dan baru bisa kembali meraih trofi untuk kali ke-26, musim 2001/2002 setelah dua tahun hanya finis menjadi runner up [1999/2000, 2000/2001].

Untungnya, saya punya kawan perempuan, namanya Alin, yang sama-sama gila bola sekaligus juga pendukung si Nyonya Tua. Jadi kami berdua bersekutu untuk saling berhemat demi membeli pernak-pernik mulai dari stiker, foto, gantungan kunci hingga majalah. Tapi saya tak berani memimpikan punya kaos bola karena harganya sangat amat sulit dijangkau saku. Bisa-bisa saya berangkat dan pulang sekolah jalan kaki karena jarak tempuh rumah dan sekolah sekitar 30 menit dengan naik bus. Saya cuma bisa melongo setiap melihat kawan-kawan lelaki saya memakai kaos bola tim kesayangan mereka saat pulang sekolah atau ketika jam mata pelajaran olahraga.

Ada satu lagi yang menjadi pecandu bola, Dela namanya. Tapi kawan saya satu ini kepincut dengan Lazio gara-gara jatuh hati dengan adiknya Pippo Inzaghi, Simone Inzaghi. Selidik punya selidik cowok yang ditaksirnya itu mirip dengan Simone.

Seiring berjalannya waktu dua sahabat saya ini ternyata kembali ke jalan yang benar. Alin kini seorang bidan yang sudah dikaruniai satu anak, sedangkan Dela sarjana arsitektur. Mereka mungkin sudah jauh dari hingar-bingar bola, sementara saya masih tersesat di lapangan.

pippo-coach-4 Efek Filippo Inzaghi
Pavel Nedved /Juventus.com

Entah apa yang merasuki saya hingga rela bangun dini hari demi atau tidur cukup larut hanya demi melihat aksi Inzaghi dkk. dari layar kaca televisi. Padahal saya mesti berangkat sangat pagi agar tak terlambat masuk sekolah. Belum lagi jika sekolah ada jam ke enol yang mewajibkan kami masuk pukul 06.00 WIB.

Lebih gila lagi ketika tes semester atau kenaikan kelas. Jangan harap menjauhkan diri dari bola, saya malah membuat basecamp di depan TV dengan setumpuk buku pelajaran plus bantal dan guling. Kalau perlu kotak ajaib itu tak perlu dimatikan sepanjang malam. Strategi ini saya terapkan selama lebih dari dua pekan demi membela timnas Italia di gelaran Euro 2000. Maka yang terjadi adalah mendengarkan ceramah panjang dari bapak dan ibu setiap hari.

Yang paling membuat sedih ketika pemain idola saya, Pippo, memutuskan pindah rumah ke San Siro di akhir musim 2000/2001. Rasanya enggak rela melihatnya memakai seragam merah hitam lalu membela Rossoneri yang juga pastinya bertarung melawan Juventus baik di liga domestik atau kompetisi lainnya. Bahkan sampai sekarang ketika melihatnya mendampingi skuat Milan Primavera [Milan junior] sebagai seorang pelatih. Apalagi saat namanya sempat dikaitkan bakal menukangi Milan untuk menggantikan Massimiliano Allegri. Untung saja, tugas itu akhirnya dibebankan Clarence Seedorf. Tapi tetap saja, dia awet di San Siro, oh tidak!

Rasa kecewa saya sedikit terobati setelah idola kedua saya, Nedved, akhirnya mendarat ke Juventus. Wah, impian saya benar-benar terwujud. Si pirang pakai seragam hitam putih !!! Justru si gelandang serang inilah yang membela Juve hingga memutuskan gantung sepatu di musim 2009 lalu. Pemilik si nomor punggung 11 ini seorang Juventus sejati yang memilih tetap bertahan saat Bianconeri terpuruk karena skandal pengaturan skor di musim 2005/2006.

Ya, skandal Calciopoli membuat nasib Juventus seakan sudah hancur lebur. Tak hanya dua gelar scudetto yang dilucuti [2005/2006], tetapi si Nyonya Tua juga mesti turun takhta ke Seri B di musim 2006/2007. Ini adalah fase terburuk sepanjang sejarah Juventus. Saya sendiri tak percaya tim kesayangan saya terlibat kasus ini. Juventus yang saya kenal tak mungkin melakukannya. Saya pun mesti berbesar hati karena menerima ejekan dari kawan-kawan hingga saat ini. Namun, tak apa. Karena saya terlalu cinta sehingga tak sanggup berpindah ke lain hati. Justru di titik inilah cinta kita diuji.

Namun fase keterpurukan itu akhirnya mampu terlewati. Dalam enam musim terakhir Juventus mampu menjadi tuan rumah di Italia dengan menyabet enam kali scudetto beruntun yang mereka catatkan sejak musim 2012 hingga 2017. Di daratan Italia belum ada yang bisa menandingi capain si Nyonya Tua. Karena Juventus bermimpi bisa menguasai Eropa, maka impian saya juga tak boleh berhenti di sini. Saya berharap bisa menyambangi tempat markas para ksatria Turin itu suatu hari nanti. Duduk manis di J-Stadium dan mungkin saja bisa berjumpa dengan Buffon dkk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *