Cerita dari Thailand (2): Gampang Susahnya Mencari Makanan Halal di Thailand

bandara Cerita dari Thailand (2): Gampang Susahnya Mencari Makanan Halal di Thailand
Bandara Don Mueang (DMK), Bangkok, Thailand.

Perut saya keroncongan begitu mendaratkan kaki untuk kali pertama di Bangkok, Thailand, pertengahan Mei 2014 lalu. Saya dan dua kawan seperjalanan, mbak Lia, dan mbak Azizah, sampai di negeri Gajah Putih ini melalui Bandara Don Mueang (DMK), Bangkok, pada malam hari sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Saking begitu antusiasnya kami lupa jika terbang dari Jakarta sore hari, perut kami belum terisi terutama makanan berat.

Selain perut yang keroncongan, kami masih harus berpikir bagaimana caranya sampai ke penginapan yang sudah kami booking jauh-jauh hari di kawasan Silom, Bangkok. Apalagi kami baru tahu jarak dari bandara ke Silom ternyata cukup jauh. Di samping itu, karena sudah malam maka transportasi umum yang bisa kami andalkan hanyalah taksi.

“Cari penginapannya kok jauh sih, mbak. Lagian di sana susah cari makan. Kalau makanan biasa itu banyak, tapi yang halal sulit,” celetuk teman kuliah saya asal Thailand, Sumaiyah, yang menjemput kami di bandara saat kuutarakan keinginan kami hendak mencari makanan.

Awalnya kami sedikit takut untuk menggunakan taksi dari bandara mengingat tarif yang biasa harus kami bayar ketika di Jakarta sungguh tak bersahabat. Sumaiy punya cara tersendiri dengan mencari taksi di luar bandara. Meskipun itu artinya kami harus berjalan kaki cukup lama dengan memanggul tas ransel besar di punggung. Untung saja, tak ada yang bawa koper sehingga tak bisa dibayangkan akan kerepotan.

Kami butuh waktu sekitar 50-60 menit untuk sampai di guesthouse yang kami tuju. Perjalanan ini cukup lancar karena lalu lintas di Bangkok kian malam tak terlalu macet. Di samping itu, harga taksi juga bikin kami terkejut karena terbilang murah sekitar 250 bath atau hanya Rp100.000. Benar saja, keinginan kami untuk makan terlebih dulu kian ciut saat melihat sekeliling tempat kami menginap yang sejauh mata memandang adalah pub, bar, dan beberapa restoran China yang menyajikan menu utama babi. Kami muslim dan kami tidak makan babi.

Terlebih ketika sampai di penginapan langsung disambut dengan pemandangan segerombolan bule yang tengah asyik mengobrol di bar yang terletak di bagian paling depan guesthouse kami. Saya, mbak Lia, mbak Azizah, saling berpandangan tanda terkejut. Sepertinya kami satu-satunya tamu penginapan yang berwajah Asia karena sejauh mata memandang hanya ada turis Eropa Amerika.

“Kayaknya kita enggak bakal makan malam deh. Kita makan sisa snack yang dibeli di Jakarta aja. Apa boleh buat demi mengganjal perut,” ujar saya sambil mengeluarkan roti dan beberapa snack dari ransel begitu masuk kamar.

Kami kemudian mengeluarkan snack yang tersisa dari ransel. Hanya ada beberapa roti tawar dan makanan ringan. Kami juga mesti berbagi mengingat jumlah tak seberapa, tapi harus mengisi empat perut yang kelaparan.

bandara Cerita dari Thailand (2): Gampang Susahnya Mencari Makanan Halal di Thailand
Produk mie instan berlabel halal di Thailand.

Keesokan harinya perut kian protes karena tak terisi penuh sejak kemarin. Hari itu kami berencana pergi naik kereta api ke Ayutthaya sebelum bertolak ke Chiangmai. Kami seakan mendapat angin segar saat berada di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok, ada warung makan berlabel halal food. Sayang, saat kami datang si pemilik sedang pergi entah kemana.

Dengan malas kami beranjak ke minimarket di dalam stasiun untuk membeli air mineral, susu, roti tawar, dan mie instan. Tapi, kami tak bisa asal beli karena harus benar-benar mencermati ada atau tidaknya label halal dalam kemasan makanan tersebut. Kami seperti orang puasa karena Sumaiy kembali mengingatkan jika di Ayutthaya makin sulit mencari makanan halal. Jadilah hari-hari berikutnyasetelah itu kami setia ditemani roti tawar pucat pasi, susu, dan air mineral. Tak lupa minuman andalan kami teh tarik Thailand yang bisa dibeli di Seven Eleven.

Lagi-lagi yang kami jadikan ganjal cacing di perut yang protes adalah roti tawar. Namun,beruntung kami bisa memperoleh tambahan gizi dengan sebotol susu berlabel halal. Jika beruntung, kami bisa mendapatkan pisang di Sevel. Mau belinasi kotak? Kami mesti berpikir panjang karena lauk-pauk yang dijual tak bisa terjamin kehalalannya.

Benar saja, selama di Ayutthaya kami seperti setengahpuasa. Berbagai jenis makanan tak bisa kami makan. Alhasil, kami hanya bisa membeli es yang terbuat dari gula aren maupun kelapa muda. Mau puasa juga jelas susah lantaran suhu di sana sangat tak bersahabat, 40 derajat celcius lebih. Saya sampai mimisan dua kali karena tak tahan panas.

Begitu pula ketika berada di Chiang Rai dan Chiang Mai. Sebelumnya, asupan makanan yang tak terkontrol itu tercerahkan di haripertama di Chiang Mai. Sopir tuk-tuk yang kami sewa sehari untuk city tour berbaik hati mengantar kami ke kawasan muslim. Di daerah Ban Hoe Mosque yang terletak di kawasan Night Bazaar,Mueang Chiang Mai District, Chiang Mai, kami bisa makan sepuas-puasnya tanpa khawatir apa pun.

“Orang Thailand ituseleranya unik. Ini kalau masak apa-apa mesti pakai daun ketumbar ya. Baunya jadi khas banget,” tutur mbak Lia, kawan seperjalanan asal Semarang.

Di hari kedua kami ikut sebuah tur karena ini perjalanan di daerah perbatasan Thailand dengan dua negara, yakni Laos dan Myanmar, maka kami wajib menggunakan jasa tur semacam ini. Sebenarnya, tur sehari ini cukup terjamin untuk urusan perut karena mendapat jatah makan siang. Tapi, kami mesti gigit jari karena menu yang disajikan adalah daging. Kami sampai minta dibuatkan menu khusus seperti telor dan mengambil makanan aman, sayuran.

bandara Cerita dari Thailand (2): Gampang Susahnya Mencari Makanan Halal di Thailand
Salah satu street food halal di Ramkhamhaeng, Bangkok, Thailand.

Urusan makanan itu sedikit terpecahkan ketika kami kembali ke Bangkok dari Chiang Mai. Kami menerima saran Sumaiy dengan mencari penginapan di kawasan Ramkhamhaeng yang menjadi surga makanan halal. Kami tak perlu takut untuk membeli makanan di sini karena kebanyakan mereka yang berjualan adalah warga Thailand Selatan.

“Mereka dari Thailand Selatan, hampir semua muslim, mbak. Makanya saya cari kos di sini biar gampang makan. Kalau kita menginap di tempat yang kemarin enggak bisa makan enak,” tutur Sumaiy yang kini sudah menjadi dosen.

Dari pagi kami memang bisa makan enak mulai dari merasakan nasi, sayur, hingga lauk-pauk. Masakannya juga enggak jauh beda dengan cita rasa Indonesia, hanya orang Thailand sangat suka daun ketumbar sehingga mereka memasukkannya hampir di semua masakan. Bagi kita yang enggak terbiasa mungkin akan terasa aneh dengan aroma daun hijau ini.

Sebenarnya gampang-gampang susah mencari makanan berlabel halal di sini. Di daerah Ramkhamheang tepatnya di seberang Stadion Rajamangala, Hua Mak, kamu bisa memanjakan perut dengan aneka masakan seafood, tomyum, laksa, dan sebagainya. Di MBK mal juga bisa kamu temukan restoran halal. Warung makan muslim ini biasanya memajang tulisan halal food di depan toko agar mudah dikenali.Di kawasan Petchaburi juga cukup banyak. Bahkan ada pula pizza halal di Pratunam.

Malam terakhir di Bangkok, Sumaiy sempat mentraktik semacam pecel di sana. Tapi, rasanya jangan dibayangkan seperti pecel ala Jawa. Entah, apa nama makanan itu. Hanya, memang terdiri dari banyak sayur plus mie putih seperti so-on. Pedas? Jangan ditanya, lidah orang Thailand itu memang kebal lombok. Maka, saya harus mengorbankan diri dengan selalu membawa air mineral stok banyak atau teh Thailand ukuran jumbo demi meredam panas di lidah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *