Cerita dari Lasem (1): Bermalam di Tiongkok Kecil Heritage, Penginapan Bergaya China Indies Belanda

rumah-merah-5 Cerita dari Lasem (1): Bermalam di Tiongkok Kecil Heritage, Penginapan Bergaya China Indies Belanda
Tiongkok Kecil Heritage di Lasem, Rembang.

Berkunjung ke Lasem, salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, ini kamu akan seakan memeroleh banyak harta karun. Mulai dari kekayaan tradisi, budaya, sejarah hingga religi yang begitu berharga.

Saya dan seorang kawan pun berkesempatan mengunjungi Lasem pada Sabtu-Minggu (29-30/7/2017) lalu. Dua hari ini kami habiskan untuk berjelajah Lasem, mencari tahu mengenai sejarah, berkunjung ke sejumlah tempat, hingga berburu batik tulis.

Menyadari kami tak paham mengenai Lasem, maka kami meminta bantuan komunitas Kesengsem Lasem untuk menemani kami berjelajah selama dua hari. Kami berangkat dari Semarang pada Sabtu (29/7/2017) pukul 06.00 WIB. Perjalanan menuju Lasem kami tempuh kurang lebih tiga jam menggunakan mobil. Sekitar pukul 09.30 kami sampai di penginapan Tiongkok Kecil Heritage di Desa Karangturi, Lasem.

Tiongkok Kecil Heritage atau rumah merah ini bisa menjadi alternatif untuk tempat menginap selama berada di Lasem. Letaknya tak jauh dari Jalan Kragan Rembang-Surabaya atau jalan raya pantai utara (Pantura) tepatnya di Jalan Karangturi IV/ 7. Tempat ini juga mudah ditemukan lantaran bangunannya memiliki tembok bercat merah menyala.

Selain difungsikan untuk penginapan dengan hanya terdiri dari empat kamar besar, tempat yang disebut Rumah Merah lantaran bercat merah ini dipakai untuk ruang publik. Sang pemilik, Rudy Hartono, mengizinkan siapa pun berkunjung ke sini. Bahkan, Rumah Merah sempat dipakai untuk menggelar Festival Lasem.

Ahli arsitektur UNS, Kusumaningdyah, dan tim dalam penelitiannya yang dipaparkan melalui tulisan Rumah Merah Tiongkok Kecil Heritage pada 2016 lalu menjelaskan Rumah Merah ini adalah bagian dari sejarah Lasem. Rumah ini mengadopsi konsep percampuran antara gaya arsitektur China dan Indies Belanda.

Tak ada data yang pasti kapan bangunan ini dibangun. Akan tetapi, ini diperkirakan sekitar tahun 1.800-an. Ini merujuk pada disertasi milik Pratiwo berjudul Kompleks China Town di Desa Karangturi, Lasem. Disebutkan, Lasem ada sekitar abad 19.

rumah-merah-5 Cerita dari Lasem (1): Bermalam di Tiongkok Kecil Heritage, Penginapan Bergaya China Indies Belanda
Teras depan Tiongkok Kecil Heritage.

Disebutkan dalam tulisan tersebut, sang pemilik rumah sekarang, Rudy Hartono, membeberkan bahwan rumah ini dibelinya dari  generasi kelima dari sebuah keluarga Tiongkok Lasem. Rudy adalah orang kedua yang menjadi pemilik bangunan yang berasal dari non keluarga.

Kombinasi gaya China dan kolonial Indies Belanda pada Rumah Merah ini direpresentasikan pada adaptasi bangunan bergaya China Indies Belanda semasa pra kemerdekaan di Jawa. Bangunan utama seluas 265 meter persegi memiliki komposisi kamar sebagai pemisah ruang, pintu besar, dan jendela bergaya China. Sedangkan struktur bangunannya seperti tiang penyangga atau pilar mengadopsi gaya Eropa atau kolonial Indies Belanda.

Selain itu, sang pemilik asli membangun rumah ini dengan konsep Yin dan Yang yang bisa terlihat dari bagaimana pembagian kamar. Penampakan simetris pada fasad serta kamar mengindikasikan keseimbangan pada Yin dan Yang. Karakter lain China yang bisa ditemui adalah ruang di tengah kamar didesain untuk ruang altar keluarga. Satu hal yang perlu digarisbawahi, yakni struktur kayu pada bangunan ini masih asli dan dalam keadaan bagus. Sang pemilik baru bahkan tak perlu menyenggol bagian ini untuk kemudian direnovasi.

Setelah proyek konservasi rumah ini rampung, Tiongkok Kecil Heritage lalu difungsikan untuk kegiatan kebudayaan di Lasem. Sejumlah aktivitas pun digelar di tempat ini seperti event dan festival. Tempat ini juga terbuka untuk umum serta banyak dijadikan objek penelitian oleh para akademisi khususnya program studi Arsitektur.

Setibanya di Rumah Merah, kami sudah dinanti mbak Candra dari komunitas Kesengsem Lasem. Perempuan berwajah oriental asli Lasem ini yang akan menemani kami mengenal lebih dekat daerah kelahirannya.

“Halo, selamat datang di Lasem ya. Istirahat dulu sebentar lalu kita langsung jalan-jalan ya?” tuturnya, setelah mengenalkan diri kepada kami.

Rumah Merah ini memang unik karena hampir semua tembok yang juga berfungsi sebagai pagar di penginapan dicat dengan warna merah kecuali bangunan utama yang ada di dalamnya. Ini jelas kontras dengan lingkungan sekitar lantaran Desa Karangturi dikenal sebagai kota lamanya Lasem.

Jika ingin menginap di Rumah Merah ini sangat mudah karena bisa dipesan melalui sejumlah startup jasa akomodasi penginapan, mulai dari Traveloka, Pegipegi.com, hingga Hotels.com. Tak perlu khawatir soal harga karena Tiongkok Kecil Heritage ini dibanderol mulai Rp300.000 hingga Rp500.000 per malamnya.

rumah-merah-5 Cerita dari Lasem (1): Bermalam di Tiongkok Kecil Heritage, Penginapan Bergaya China Indies Belanda
Tiongkok Kecil Heritage saat malam hari.

Akan tetapi, Rumah Merah ini hanya terdiri dari empat kamar. Sedangkan kamar mandi ada empat dan semuanya berada di luar bangunan utama. Saat malam hari, Tiongkok Kecil Heritage menyajikan nuansa yang berbeda. Penginapan ini makin eksotis dengan pencahayaan yang unik khususnya di bagian depan teras depan.

Selain itu, pengelola juga menjajakan aneka cemilan makanan khas Lasem. Tak ketinggalan pula kain batik yang jadi identitas Lasem juga dijual di penginapan ini. Akan tetapi, jika ingin berbelanja batik alangkah baiknya berburu langsung ke sentra produksinya di Desa Babagan. Jadi, selamat mencoba bermalam di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *