Cerita dari Aceh (2): Selera Pedas di Tanah Rencong

f4236-32miekepiting Cerita dari Aceh (2): Selera Pedas di Tanah Rencong
Mie kepiting Aceh

Sudah sampai di Banda Aceh tentunya sayang jika melewatkan makanan khas bumi Serambi Mekah ini. Seperti pada umumnya masakan khas Sumatra, Aceh juga identik dengan olahan pedasnya. Namun, jika lidah Anda tak suka dengan lombok seperti saya, bersiaplah air mineral di samping Anda karena masakan yang ada hampir semuanya pedas.

Masakan yang harus dicoba tentu saja Mie Aceh. Olahan mie ini memang sudah tak asing lagi di telinga. Maklum, mereka orang Aceh yang merantau jauh dari tanah kelahirannya berperan penting menyebarkan virus makanan Aceh ke tanah Jawa. Bahkan, warung di belakang kampus saya di Solo pun menyuguhkan Mie Aceh sebagai sajian utamanya. Menginjakkan kaki di kota yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka ini memang harus siap berpedas ria. Saya termasuk orang yang tak bersahabat dengan makanan pedas pun harus pasrah saat ketiga kawan seperjalanan serta dua teman Aceh saya memilih tentu saja Mie Aceh menjadi santapan di malam perdana kami di Serambi Mekah.

Ketiga kawan saya sepakat membidik Mie Kepiting sebagai menu utama. Sedang saya memilih aman dengan mencoba Mie Cumi-cumi. Saya kira menu kepiting yang akan tersaji di meja sudah berupa daging ataupun dalam porsi kecil seperti yang ada di Solo. Ternyata dugaan saya salah besar. Mie Kepiting itu adalah perpaduan antara Mie Aceh dan seekor kepiting besar. Porsinya tak manusiawi karena seharusnya ini diperuntukkan tiga hingga empat orang. Seorang kawan saya sudah menyerah hanya dengan menghabiskan ¼ porsi, satu lagi setengah porsi dan saya berikan standing applause untuk kawan saya satu lagi yang sukses menandaskan kepitingnya. Harga untuk seporsi Mie Aceh plus kepiting besar ini hanya Rp30.000/porsi.

Makanan kedua yang wajib dicoba adalah Ayam Tangkap. Sajian ini sangat terkenal seantero Aceh. Mendengar namanya memang membuat perut tergelitik. Konon, ayam ini baru ditangkap dan dipotong-potong saat akan dijadikan masakan. Lidah saya langsung cocok dengan menu yang tersaji di warung di depan Masjid Baiturrahim, Banda Aceh. Makanan khas ini tak ada bedanya dengan ayam goreng biasa tetapi, dipotong ukuran kecil-kecil lalu dicampur dengan cabe hijau serta daun hijau mirip salam. Rumah makan yang menyajikan Ayam Tangkap banyak sekali ditemui di Kota Banda Aceh ini.

Kuliner di Kota Sabang, Pulau Weh juga tak kalah menantang. Bahkan, Sabang menawarkan menu spektakuler macam Sate Gurita. Jangan membayangkan gurita yang masih hidup karena saya yakin Anda tak akan berselera. Cukup nikmati saja seperti makan sate ayam atau sate kambing. Hewan moluska yang hidup di laut ini tersaji bersama lontong serta sambal kacang. Menu istimewa ini bisa menjadi teman makan malam di kawasan Pusat Jajanan Selera Rakyat (Pujasera) yang terletak sederet dengan kompleks Pantai Paradiso, Sabang atau di depan Sabang Fair.

Hidangan terlezat lain yang ditawarkan Sabang adalah Mie Sedap. Sayangnya, saya tak mendapat kesempatan untuk mencicipi olahan mie di warung makan Sedap. Pertama karena saya lewat saat jam istirahat panjang kedua, keesokan harinya warung itu tetap belum buka, nasib. Namun, kekecewaan ini terobati karena Bang Dendi, abang yang mengantarkan saya dan kawan-kawan selama di Sabang mengajak sarapan Mie Jalak yang dijual di Warung Kopi Pulau Indah di Jalan Perdagangan. Mie Jalak mirip mie Bandung hanya saja kuahnya langsung dicampur dengan sedikit irisan daging serta taoge plus telur rebus setengah matang. Seporsi mie ini dijual dengan harga Rp13.000. Tak butuh waktu lama bagi saya berenam menandaskan isi mie yang disajikan dalam piring cukup besar ini. Rasanya benar-benar mak nyuss.

Jangan coba-coba mencari sayur di Sabang karena sajian dengan menu yang biasa kita makan sehari-hari di Jawa ini terbilang makanan langka dengan harga yang tentunya lebih mahal dari ikan segar. Maklum, lahan Sabang tidak cocok ditanami sayur-mayur. Praktis, semua kebutuhan ini diangkut langsung dari Banda Aceh dan sekitarnya. Selama beberapa hari di pulau titik nol kilometer Indonesia ini saya bertemua sayur dua kali. Itupun sebatas sayur mirip bayam dan kacang panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *