Mengejar Marc Marquez Sampai ke Sepang

marc-menang Mengejar Marc Marquez Sampai ke Sepang
Selebrasi Marc Marquez di Sepang

Deru suara mesin motor yang sangat membisingkan telinga mendominasi seantero Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (26/10/2014) siang itu. Saking kerasnya geberan motor itu sampai bikin merinding bulu kuduk saya. Mungkin bagi sebagian orang mereka akan langsung pergi menjauh dari kebisingan yang bikin jantung dag dig dug ini, tetapi bagi saya dan ratusan ribu orang di sini inilah yang sengaja hendak kami temui di Sepang.

Ah, entah sudah berapa lama saya memimpikan berada di antara keramaian ini. Riuh suara motor balap yang dulu hanya sebatas angan-angan terwujud sudah. Balapan motor yang saya tonton bukan sekadar aku kebut biasa, melainkan racing nomor satu di dunia, MotoGP. Saya sampai lupa kapan jatuh cinta pada olahraga ini. Yang saya ingat, dulu namanya masih kelas 500 cc, baru di musim 2002 resmi diganti MotoGP seiring dengan teknologi canggih yang mengikutinya.

Continue reading “Mengejar Marc Marquez Sampai ke Sepang”

Efek Filippo Inzaghi

pippo-coach-4 Efek Filippo Inzaghi
Filippo Inzaghi

Saya tidak tahu bagaimana awalnya saya jatuh cinta dengan sepak bola. Sebab, tak ada darah penggila bola apalagi pemain bola dalam keluarga besar saya. Bapak yang seorang guru tak suka olahraga ini dan lebih senang mendengarkan langgam Jawa dan teman-temannya, sementara ibu lebih suka membaca buku berbahasa Jawa dan sejenisnya.

Seingat saya olahraga yang identik dengan lelaki ini saya kenal sejak duduk di bangku SD. Namun, bola resmi menjadi bagian dari hidup saya setelah naik ke level SMP. Adalah teman-teman lelaki saya yang setiap awal pekan selalu asik mengobrol tentang olahraga yang membutuhkan 11 orang demi memperebutkan satu bola di lapangan hijau berumput ini.

Lantaran ingin ikutan nimbrung, maka sedikit demi sedikit mulai melihat siaran bola berdurasi 2 x 45 menit di salah satu televisi swasta yang saat itu moncer dengan menyiarkan berbagai pertandingan Seri A Italia. Saat itu tahun 1990-an Liga Premier Inggris belum setenar seperti sekarang. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab mengapa saya jatuh hati pada tim Italia yang berkompetisi di level Serie A. Continue reading “Efek Filippo Inzaghi”

Euro 2004 di Asrama

665071_w2-1 Euro 2004 di Asrama
Timnas Yunani/Uefa.com

Saya kira dari sekian hal gila yang pernah saya lakukan saat masih duduk di bangku SMA adalah ketika nekat menyaksikan pertandingan final sepak bola terakbar di benua Eropa Euro 2004 dini hari. Maklum, melihat televisi adalah momen langka bagi saya dan teman-teman yang tinggal di asrama saat itu. Setidaknya dalam sepekan, kami hanya diperbolehkan menonton kotak ajaib itu sekitar satu hari saja saat libur sekolah.

Namun, perhelatan sepak bola termegah di Eropa itu untungnya digelar tepat seusai tes semester. Tapi tetap saja menonton para pahlawan di lapangan hijau adalah sesuatu yang sangat langka. Apalagi tidak banyak teman-teman perempuan saya yang gila dengan si kulit bundar ini.

Ajang Euro 2004 merupakan gelaran ke-12 dengan Portugal yang bertindak sebagai tuan rumah. Sebelumnya Euro 2000 di Belgia-Belanda merupakan turnamen yang menyedihkan karena jagoan saya Italia ditekuk Perancis 1-2 di babak final. Gol emas David Trezeguet membuyarkan mimpi Azzuri untuk bisa membawa pulang piala Henry Delaunay ini. Continue reading “Euro 2004 di Asrama”