Bikin Warung Kopi Tak Harus Mahal

Kopi bagi Faisal Hakim semestinya bisa dinikmati oleh semua kalangan. Keinginan inilah yang hendak diwujudkan mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini. Maka dari itu, ia dan kawan sekampusnya, Rachmat Nurmuis, nekat mendirikan Koohii Kopi, sebuah angkringan kopi yang terletak tak jauh dari kampusnya, di Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, sebulan lalu.

“Biasanya orang kalau mau minum kopi enak itu harus ke kafe. Tapi, harganya tentu mahal. Padahal seharusnya kopi ini bisa dinikmati oleh semua orang. Maka dari itu, kami ingin memasyarakatkan kopi ini. Boleh dicek harga kopi kami bisa didapatkan mulai dari Rp6.000/cup,” ujar Faisal, saat ditemui di Gladag Coffee Festival yang digelar di Pusat Grosir Solo (PGS), Jumat (26/10/2018).

Faisal mengaku sebelum akhirnya memberanikan diri membuka angkringan kopi sendiri, ia dan Rachmat kerap mengikuti festival kopi semacam ini. Kali ini mereka bergabung dengan Kopi AS, produsen kopi asal Temanggung, dalam satu tenant di Gladag Coffee Festival yang untuk kali kedua digelar.

Baginya, modal utama untuk mewujudkan kopi untuk semua kalangan ini adalah nekat. Berbekal anggaran minimalis sekitar Rp5 juta, Faisal dan Rachmat membuka Koohii Kopi. Sedangkan kemampuan meracik kopi mereka dapatkan dari hasil belajar di berbagai tempat. Mulai dari menimba ilmu dari kenalan yang ahli di bidang kopi hingga mendatangi warung kopi.

Modal minimalis itu mereka belikan aneka alat meracik kopi minus mesin espresso. Beberapa di antaranya mereka bawa ke Gladag Coffee Festival yang berlangsung selama tiga hari, Jumat – Minggu (26-28/10/2018). Ada dua grinder serta aneka alat seduh kopi seperti V60, kalita, hingga aeropress. Tak lupa mereka juga pamer rok presso manual brewing yang masih baru. Ceritanya, hasil keuntungan selama sebulan berjualan kopi mereka belikan mesin espresso manual tersebut.

“Awalnya saya enggak bisa bikin kopi. Saya belajar saja ke sana ke mari lalu mencoba langsung bagaimana meracik kopi khususnya single origin. Konsepnya ini back to angkringan, tapi kopi jualan utamanya. Dalam sehari kami bisa menjual 20 cup kopi, ini di luar minuman dan jajanan lain,” tutur Rachmat yang notabene mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UMS ini.

Sesuai dengan visi Koohii Kopi, yakni minum kopi tak harus mahal, secangkir kopi di angkringan ini dijual dengan harga mulai Rp6.000. Bahkan, kopi house blend hasil racikan mereka sendiri hanya Rp10.000/cup. Begitu pula dengan kopi premium berupa Gayo Wine, yakni Rp10.000/cup saja.
Lain cerita dengan Finest Eatery and Coffee. Warung kopi yang terletak di Joho, Mojolaban, Sukoharjo, ini sudah tiga tahun berdiri. Sang pemilik, Bahtiar Rifai, semula bekerja sebagai kontraktor. Singkat kata ia banting setir belajar meracik kopi lantaran hobi ngopi saat masih jadi kontraktor.

“Saya sering ngopi. Daripada saya nongkrong dan ngopi terlalu lama di tempat orang lain, kenapa saya tidak bikin sendiri saja. Makanya, saya nekat akhirnya keluar dari kerjaan dan full ngurusin kedai kopi. Penting berani dulu buka kedai, modal awal ya pas-pasan,” ungkapnya sembari menyiapkan tenant dalam acara Gladag Coffee Festival ini.

Modal awal yang ia keluarkan sekitar Rp6 juta untuk membeli peralatan seperti grinder, aneka alat seduh kopi, hingga rok presso. Kemampuannya membuat kopi single origin maupun manual brewing pun diperoleh dari belajar di berbagai tempat. Bahkan, ia mempelajari bagaimana menanam kopi yang baik hingga proses roasting kopi atau memasak biji kopi.

Seiring berjalannya waktu, usahanya membuahkan hasil positif. Jika dulu ia membeli beans atau biji kopi dari pengepul, kini ia langsung jemput bola ke petani kopi di daerah Ampel, Salatiga, dan Kopeng. Ia pun butuh waktu berbulan-bulan mendekati para petani kopi di berbagai wilayah ini untuk menghasilkan kopi petik merah, yakni standar kopi yang bermutu.

Kopi andalan Finest Eatery and Coffee adalah Robusta Ampel dan Arabica Merbabu. Robusta Ampel ini memiliki after taste karamel, gula jawa, dan moka. Sedangkan Arabica Merbabu punya rasa seimbang antara sweet dan acid dengan after taste, berry. Produk favorit lainnya adalah kopi gula aren. Kopi ini memakai bubuk robusta dengan penyeduhan vietnam drip kemudian diseduh dingin atau metode cold brew baru kemudian dicampur gula aren.

“Saya mengedepankan kopi single origin dan manual brewing sehingga memang sengaja tak menyediakan mesin espresso. Membuat espresso base pun kami manual brewing. Terlepas dari itu, saya ingin menunjukkan membuat kedai kopi itu enggak perlu modal banyak, jalan dulu yang terpenting,” katanya.

Sementara itu, Marketing Communication PGS Solo, Imanuel Prasetya, mengatakan Gladag Coffee Festival yang digelar selama tiga hari ini merupakan agenda tahunan dengan menggandeng komunitas kopi dari berbagai daerah. Tahun ini ada sebanyak 12 kedai kopi yang ikut serta meramaikan festival kopi tersebut.

Menurutnya, pengunjung tak hanya menikmati kopi yang dibagikan secara gratis sebanyak 1.500 cup, mereka juga bisa menimba ilmu dengan serangkaian acara yang digelar. Antara lain, bedah buku The Road to Java Coffee karya pakar kopi, Prawoto Indarto hingga fun battle V60.
“Kami berencana menjadikan festival kopi ini menjadi acara tahunan PGS. Target kami acara ini sekaligus promosi bagi PGS,” jelasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *