Batik Indonesia, Karya Maestro Batik Go Tik Swan

Batik Indonesia adalah batik yang lahir dari tangan sang maestro batik, Go Tik Swan. KRAry Hardjosoewarno (pewaris Go Tik Swan) pun bercerita tentang lahirnya mahakarya sang empu batik ini saat saya dan beberapa kawan berkesempatan mengunjungi kediamannya yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Solo, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, semasa hidupnya Go Tik Swan atau Hardjonagoro menjadi orang dekat Bung Karno (Presiden pertama RI, Soekarno). Suatu saat selepas makan malam, Bung Karno mendadak memintanya untuk membuat batik. Namun, batik yang diinginkan sang Proklamator bukanlah batik Solo atau Yogyakarta maupun Pekalongan dan Cirebon, melainkan Batik Indonesia.

“Pak Go terkejut dengan apa yang diucapkan Bung Karno. Dia adalah orang yang bekerja untuk Soekarno, maka ia menganggap itu sebagai perintah yang harus dilaksanakan. Ia merasa bingung campur ragu, tetapi karena ini sudah perintah, maka mesti ia lakukan,” ucap lelaki asal Mandan, Sukoharjo, yang setia mendampingi mendiang Go Tik Swan hingga tutup usia pada 5 November 2006 silam.

Demi mewujudkan perintah orang nomor satu se-Indonesia tersebut, Go Tik Swan melakukan survei. Namun demikian, metode yang diterapkannya berbeda survey atau penelitian pada umumnya. Ia menjalaninya sebagaimana orang Jawa, yakni dengan laku (nglakoni). Selain survei ke sentra batik, ia juga berziarah ke makam-makam orang suci di berbagai tempat. Ia akhirnya mendapatkan ilham tentang ide batik Indonesia itu ketika berada di Bali. Ia seakan mendapat “wahyu” lalu menuangkannya ke dalam gambar-gambar desain setibanya di Solo.

Setelah jadi, karya itu ia perlihatkan ke hadapan Bung Karno. Sang Presiden mengamininya dan memperkenalkannya kepada masyarakat sebagai Batik Indonesia. Batik ini adalah perpaduan antara batik gaya klasik kraton (Solo, Yogyakarta) dan gaya pesisir utara Jawa Tengah (Pekalongan). Maka yang terjadi adalah perkawinan teknik sogan dengan pewarnaan multiwarna khas pesisir.

Sawunggaling Batik Indonesia, Karya Maestro Batik Go Tik Swan
Salah satu motif Batik Indonesia, Sawunggaling

“Jadi Batik Indonesia itu merupakan perpaduan motif lama disentuh dengan yang baru. Setiap polanya ada filosofinya. Kalau ditotal motif yang beliau ciptakan sangat banyak, lebih dari 100 buah,” cerita Supiyah, perempuan yang dulu bekerja dengan Go Tik Swan, istri Hardjosoewarno.

Supiyah meneruskan setiap motif yang diciptakan Go Tik Swan memiliki makna simbolik. Antara lain, batik Parang Bima Kurda, Sawunggaling, Kukila Peksa Wani, Radite Puspita, Pisan Bali dan lain-lain. Selain itu, ia menerapkan konsep nunggak semi, yakni sebuah konsep pengembangan kebudayaan yang didasarkan pada pokok (tonggak) kebudayaan lama, mengenal yang lama untuk menciptakan yang baru.

Dari sekian karyanya itu, Sawunggaling yang menjadi master of piece. Sawunggaling sebenarnya merupakan nama tokoh heroik dalam cerita rakyat Jawa Timur yang berjuang membela rakyat jelata memerangi penjajah Belanda. Namun, Sawunggaling versi Go Tik Swan terinsipirasi dari sebuah arena pertarungan sabung ayam di Bali. Ia terilhami dari pakaian Bali yang dikenakan kawannya yang berlatar Sawunggaling warna emas. Ia mengubahnya dalam warna campuran soga dan merah darah berlatar hitam. Kali terakhir Hardjonagoro membuat motif batik Parang Baris Suryo Guritno yang dipersembahkan untuk Pakubuwana XII.

Motif-motif ini masih diproduksi hingga sekarang. Para pewaris Go Tik Swan tak pernah mengubah motifnya, tetapi hanya melakukan pengolahan warna atau mengubah latarnya saja. Tak perlu membuka butik atau showroom khusus untuk memasarkan batik yang super eksklusif ini karena mereka sudah memiliki langganan tetap. Mulai dari para menteri, anggota dewan hingga mantan Presiden RI sekaligus putri sang proklamator, Megawati Soekarno Putri.

Sawunggaling Batik Indonesia, Karya Maestro Batik Go Tik Swan
Karyati, pembatik di rumah Go Tik Swan

Jika tak memiliki uang banyak, jangan coba-coba memesan batik ini. Harga kain batik buatan rumah batik Go Tik Swan ini jutaan rupiah. Selain itu, waktu pengerjaannya sangat lama, jika motifnya biasa maka dibutuhkan waktu 4-5 bulan, tapi kalau yang dipesan sekelas Sawunggaling, bersiaplah menanti hingga 6 bulan demi mendapatkan karya monumental ini. Supiyah menyebut konon harga yang paling fantastis itu khusus untuk batik Tumurun Sri Narendra yang pernah dibuat Go Tik Swan untuk Pakubuwana XII saat jumenenangan yang ke-32.

Salah satu karyawan Go Tik Swan, Edi, menyebut jika pelanggan membatalkan pesanannya tak jadi soal, karena sudah ada pelanggan lain yang sedia membeli batik tersebut. Ia bercerita dulu majikannya memiliki karyawan yang lumayan banyak, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kini tinggal puluhan. Lagi-lagi regenerasi pembatik atau mencari pembatik sekarang tak mudah. Kini yang tersisa adalah beberapa pembatik yang sudah mengabdi hingga puluhan tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *