Wajah Baru Food Court SGM: Tetap Murah dengan Pilihan Menu Melimpah

Food Court Solo Grand Mall (SGM) akhirnya berubah wajah sejak mal pertama di Kota Solo ini berdiri pada 2004 lalu. Tak dapat dipungkiri area food court yang terletak di lantai III ini jadi jujugan pengunjung untuk menikmati kuliner. Tak hanya aneka menu yang dijajakan terbilang komplet, tetapi harga makanan yang ramah di kantong membuat food court ini paling ramai dikunjungi.

Public Relation SGM, Ni Wayan Ratrina, mengatakan untuk kali pertama food court bersolek setelah SGM berdiri 14 tahun silam. Menurutnya, perubahan ini dilakukan manajemen demi semakin membuat nyaman pengunjung hingga mengikuti tren kekinian. Bagaimana pun salah satu pelanggan tetap food court ini adalah kalangan anak muda. Kini area ini lebih berwarna dengan adanya bangku atau kursi warna-warni.

“Zaman sekarang itu anak-anak milenial kalau mau makan difoto dulu makanannya. Makanya, tempat yang untuk foto harus zaman now enggak old. Mal kami memang segmennya keluarga. Akan tetapi, anak-anak muda menempati porsi tersendiri khususnya saat hari biasa atau weekdays,” ujarnya, saat ditemui, Jumat (22/3/2019).

Perempuan yang akrab disapa Ina ini menambahkan area ini banyak dipenuhi kawula muda saat weekdays, dengan persentase hingga 60%. Ia mencontohkan saat jam makan siang pengunjung yang datang adalah para pekerja. Hal ini lantaran letak SGM yang dikeliling banyak gedung perkantoran. Selepas itu mereka yang mampir ke food court adalah anak muda, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa. Zona ini juga dijejali kaum milenial saat Minggu yang notabene hari libur setelah sebelumnya Sabtu banyak pengunjung rombongan keluarga.

Continue reading “Wajah Baru Food Court SGM: Tetap Murah dengan Pilihan Menu Melimpah”

Metamorfosis Warung Burjo

Warung bubur kacang hijau (Burjo) yang menjamur di Yogyakarta sukses melebarkan sayapnya ke Soloraya setahun terakhir. Adalah area kampus yang kerap menjadi tempat strategis berdirinya Burjo yang belakangan justru tak lagi berjualan bubur kacang hijau. Meski beberapa kekhasan Burjo masih bertahan. Mulai dari kebanyakan pemilik dan penjual Burjo berasal dari Kuningan, Jawa Barat; akronim menu yang unik; hingga harga yang sangat terjangkau khususnya untuk dompet mahasiswa.

“Kalau jajan di Burjo yang pertama pasti harganya murah terjangkau anak kos. Saya jadi bisa makan tiga kali sehari,” tutur mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Fahira, Jumat (12/4/2019).

Fahira menyebut puluhan Burjo kini ada di kampusnya. Namun demikian, ada beberapa Burjo yang cukup hits di kalangan mahasiswa. Meskipun begitu, rata-rata menu yang dijual Burjo ini relatif sama dan harganya juga enggak jauh beda satu sama lain. Menurutnya, ia dan teman-temannya memilih satu Burjo tertentu lantaran masakan dan tempatnya asik untuk nongkrong.

Gadis asal Purworejo ini bercerita ia kerap memesan mie dok-dok. Ini adalah salah satu menu khas Burjo. Menu ini berbahan dasar mie instan biasa, tapi kemudian dimasak dengan aneka bumbu tambahan seperti, garam, gula, merica ubuk, saos sambal, saus tomat, kecap, plus telur orak-arik. Menurutnya, Burjo seringkali menjadi jujugan untuk makan sehari-hari selain warung makan biasa dengan konsep Pokwe (jupuk dewe dalam bahasa Jawa atau ambil sendiri).

Continue reading “Metamorfosis Warung Burjo”

Olahan Ayam Khas Kremes Malioboro

Pamor olahan daging ayam memang tak pernah pudar. Adalah Kremes Ayam Malioboro yang sukses bertahan sebagai salah satu rujukan warung makan dengan menu khas ayam bakar dan goreng di Kota Solo sejak 1985. Berawal dari warung ayam kaki lima di kawasan Sraten, Serengan, Solo, kemudian berpindah ke Jalan Diponegoro Solo, tepat di depan Pura Pamedan Mangkunegaran, Kremes Ayam Malioboro kini berhasil melebarkan sayap di lima kota, tiga di antaranya pengembangan dengan sistem franchise.

Tak mudah bagi Vileo Nyoto Handoko, generasi kedua pemilik Kremes Ayam Malioboro, dan keluarga untuk membangun kembali bisnis kuliner setelah diterpa berbagai persoalan. Mulai dari penggusuran warung mereka yang dulunya berada di depan Mangkunegaran lantaran penataan kawasan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo hingga kehilangan sang mama pada medio 2009 lalu.

“Setelah adanya penataan di depan Mangkunegaran waktu itu, kami sempat vakum. Apalagi di waktu bersamaan Mama meninggal karena kanker. Kejadian beruntun ini membuat kami sempat jatuh,” tutur lelaki yang akrab disapa Leo ini, saat mengenang mendiang sang Mama, Susanawati, Selasa (13/11/2018).

Leo bercerita nama Malioboro ini punya arti khusus. Dulu kedua orang tuanya berjumpa di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Mereka pacaran kemudian menikah. Sebenarnya sang Papa, Nyoto Handoko, berwirausaha dengan mendirikan toko aluminium. Toko inilah yang malam harinya kemudian dimanfaatkannya dengan sang istri membuka warung Kremes Ayam Malioboro untuk kali pertama pada 1985.

Continue reading “Olahan Ayam Khas Kremes Malioboro”

Bikin Warung Kopi Tak Harus Mahal

Kopi bagi Faisal Hakim semestinya bisa dinikmati oleh semua kalangan. Keinginan inilah yang hendak diwujudkan mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini. Maka dari itu, ia dan kawan sekampusnya, Rachmat Nurmuis, nekat mendirikan Koohii Kopi, sebuah angkringan kopi yang terletak tak jauh dari kampusnya, di Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, sebulan lalu.

“Biasanya orang kalau mau minum kopi enak itu harus ke kafe. Tapi, harganya tentu mahal. Padahal seharusnya kopi ini bisa dinikmati oleh semua orang. Maka dari itu, kami ingin memasyarakatkan kopi ini. Boleh dicek harga kopi kami bisa didapatkan mulai dari Rp6.000/cup,” ujar Faisal, saat ditemui di Gladag Coffee Festival yang digelar di Pusat Grosir Solo (PGS), Jumat (26/10/2018).

Faisal mengaku sebelum akhirnya memberanikan diri membuka angkringan kopi sendiri, ia dan Rachmat kerap mengikuti festival kopi semacam ini. Kali ini mereka bergabung dengan Kopi AS, produsen kopi asal Temanggung, dalam satu tenant di Gladag Coffee Festival yang untuk kali kedua digelar.

Baginya, modal utama untuk mewujudkan kopi untuk semua kalangan ini adalah nekat. Berbekal anggaran minimalis sekitar Rp5 juta, Faisal dan Rachmat membuka Koohii Kopi. Sedangkan kemampuan meracik kopi mereka dapatkan dari hasil belajar di berbagai tempat. Mulai dari menimba ilmu dari kenalan yang ahli di bidang kopi hingga mendatangi warung kopi.

Continue reading “Bikin Warung Kopi Tak Harus Mahal”

Kehangatan Interaksi dari Secangkir Kopi

Habib Rizki dengan cekatan membuat secangkir latte panas atau hot latte dalam hitungan menit setelah lebih dulu membikin espresso. Takarannya espresso kali ini 27 gram bubuk kopi house blend hasil racikan Sekutu Kopi. Rampung dengan espresso yang dibikin menggunakan coffee maker keluaran Italia, barista coffee shop yang terletak di Jalan Brigjend Slamet Riyadi ini kemudian menyiapkan susu putih untuk campurannya.

Susunya pun mesti di-steam (dipanaskan) terlebih dulu dengan alat berbentuk tongkat yang satu set dengan mesin pembuat kopinya. Pada tahap ini frothing steam susu untuk membuat foam atau busa. Tahap terakhir ia lalu menuangkan susu ke atas espresso diperindah dengan sentuhan seni (latte art).

“Kalau membikin espresso blend itu bisa pakai mesin atau manual. Bahan utamanya espresso dulu, kalau latte itu dicampur susu, kalau Americano dicampur air,” tuturnya, Selasa (17/7/2018).

Habib adalah salah satu barista yang bekerja di Sekutu Kopi milik pasangan barista, Ricky Vernandes dan Carissa Odillia. Meski baru buka pada April 2018 lalu, coffee shop ini boleh dibilang tak pernah sepi pengunjung. Saat itu sebelum jam makan siang, kafe kopi yang terletak bersebelahan dengan restoran cepat saji McDonald ini sudah didatangi sejumlah pelanggan. Pengunjung yang datang notabene pekerja kantoran. Ini tampak dari baju yang mereka kenakan, yakni setelah celana kain dan kemeja slim fit. Meskipun begitu, ada pula ibu-ibu berhijab yang membawa serta anak mereka yang masih berseragam sekolah usia taman kanak-kanak.

Continue reading “Kehangatan Interaksi dari Secangkir Kopi”

Ekspansi Generasi Ketiga Kusuma Sari

Tak ada yang meragukan kenikmatan menu-menu klasik fusions Jawa Belanda buatan rumah makan (RM) Kusuma Sari yang terletak tepat di perempatan Nonongan, di Jalan Brigjend Slamet Riyadi no 111, Kemlayan, Serengan, Solo. Maklum, rumah makan yang semula berawal dari usaha katering yang berdiri sejak 1970 ini masih eksis di tengah perkembangan zaman dengan munculnya berbagai variasi makanan kekinian.

Sebut saja menu seperti kroket, selat segar, steak galantin, sup mekarsari, sup galantin, stoop macaroni, hingga es krim, yang jadi andalan rumah makan yang didirikan oleh Sugiarti Waluyo Kusumo atau lebih dikenal dengan Bu Menggung pada 1990-an silam. Di tangan generasi ketiga, Kusuma Sari pun terus berinovasi dan semakin membuka diri. Ekspansi pun dilakukan untuk kali pertama oleh dua cucu Bu Menggung, Herwita Titi Sekartaji dan Endah Trisnowati, sebagai pewaris dengan membuka tenant di Food Park yang terletak di lantai 2 The Park Mall Solo Baru, akhir Juni lalu.

Salah satu pewaris RM Kusuma Sari, Endah Trisnowati, pun bercerita tak mudah meyakinkan keluarga besar serta jajaran komisaris untuk mengembangkan rumah makan warisan ini di tempat lain. Mereka sempat khawatir jika rumah makan di Nonongan ini bakal sepi seandainya Kusuma Sari buka cabang.

“Kurang lebih satu tahun kami usul akan pengembangan ini sehingga komisaris legawa agar kami membuka yang baru. Kami modal nekat. Apalagi zaman sekarang banyak keuntungan yang bakal diperoleh dengan menempatkannya [tenant] di mal. Selama hampir sebulan, kami berhasil mendatangkan lebih banyak pelanggan. Selain itu, kami sudah punya nama sehingga masyarakat langsung tahu,” tuturnya, Jumat (13/7/2018).

Continue reading “Ekspansi Generasi Ketiga Kusuma Sari”

Variasi Daging Merah ala Double Decker

Menu olahan daging merah masih menjadi sajian utama restoran Double Decker yang mengusung konsep casual dining ini. Kali ini restoran yang terletak di lantai dasar Fave Hotel Solo Baru tepatnya di Jalan Ir Soekarno Solo Baru, Sukoharjo, ini kembali menggeber menu promo periode Juli 2018.

Adalah striploin steak yang jadi menu andalan pada Juli 2018 ini. Tak tanggung-tanggung, restoran yang menyajikan menu western ini membanderol striploin steak dengan promo buy one get one hanya dengan harga Rp99.800 (belum termasuk pajak).

Striploin ini merupakan daging sapi yang membungkus bagian tenderloin. Jenis ini adalah salah satu daging primadona karena teksturnya yang lembut dan rasa juicy dari lemak yang cukup terasa. Daging jenis striploin ini lebih lembut daripada sirloin, tetapi lebih keras daripada tenderloin.

Bentuk striploin pun khas dengan memanjang dari bagian depan hingga sampai perbatasan pinggul sapi dan membentuk sedikit lempengan daging atau disebut strip.

Continue reading “Variasi Daging Merah ala Double Decker”