Olahan Ayam Khas Kremes Malioboro

Pamor olahan daging ayam memang tak pernah pudar. Adalah Kremes Ayam Malioboro yang sukses bertahan sebagai salah satu rujukan warung makan dengan menu khas ayam bakar dan goreng di Kota Solo sejak 1985. Berawal dari warung ayam kaki lima di kawasan Sraten, Serengan, Solo, kemudian berpindah ke Jalan Diponegoro Solo, tepat di depan Pura Pamedan Mangkunegaran, Kremes Ayam Malioboro kini berhasil melebarkan sayap di lima kota, tiga di antaranya pengembangan dengan sistem franchise.

Tak mudah bagi Vileo Nyoto Handoko, generasi kedua pemilik Kremes Ayam Malioboro, dan keluarga untuk membangun kembali bisnis kuliner setelah diterpa berbagai persoalan. Mulai dari penggusuran warung mereka yang dulunya berada di depan Mangkunegaran lantaran penataan kawasan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo hingga kehilangan sang mama pada medio 2009 lalu.

“Setelah adanya penataan di depan Mangkunegaran waktu itu, kami sempat vakum. Apalagi di waktu bersamaan Mama meninggal karena kanker. Kejadian beruntun ini membuat kami sempat jatuh,” tutur lelaki yang akrab disapa Leo ini, saat mengenang mendiang sang Mama, Susanawati, Selasa (13/11/2018).

Leo bercerita nama Malioboro ini punya arti khusus. Dulu kedua orang tuanya berjumpa di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Mereka pacaran kemudian menikah. Sebenarnya sang Papa, Nyoto Handoko, berwirausaha dengan mendirikan toko aluminium. Toko inilah yang malam harinya kemudian dimanfaatkannya dengan sang istri membuka warung Kremes Ayam Malioboro untuk kali pertama pada 1985.

Continue reading “Olahan Ayam Khas Kremes Malioboro”

Bikin Warung Kopi Tak Harus Mahal

Kopi bagi Faisal Hakim semestinya bisa dinikmati oleh semua kalangan. Keinginan inilah yang hendak diwujudkan mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini. Maka dari itu, ia dan kawan sekampusnya, Rachmat Nurmuis, nekat mendirikan Koohii Kopi, sebuah angkringan kopi yang terletak tak jauh dari kampusnya, di Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, sebulan lalu.

“Biasanya orang kalau mau minum kopi enak itu harus ke kafe. Tapi, harganya tentu mahal. Padahal seharusnya kopi ini bisa dinikmati oleh semua orang. Maka dari itu, kami ingin memasyarakatkan kopi ini. Boleh dicek harga kopi kami bisa didapatkan mulai dari Rp6.000/cup,” ujar Faisal, saat ditemui di Gladag Coffee Festival yang digelar di Pusat Grosir Solo (PGS), Jumat (26/10/2018).

Faisal mengaku sebelum akhirnya memberanikan diri membuka angkringan kopi sendiri, ia dan Rachmat kerap mengikuti festival kopi semacam ini. Kali ini mereka bergabung dengan Kopi AS, produsen kopi asal Temanggung, dalam satu tenant di Gladag Coffee Festival yang untuk kali kedua digelar.

Baginya, modal utama untuk mewujudkan kopi untuk semua kalangan ini adalah nekat. Berbekal anggaran minimalis sekitar Rp5 juta, Faisal dan Rachmat membuka Koohii Kopi. Sedangkan kemampuan meracik kopi mereka dapatkan dari hasil belajar di berbagai tempat. Mulai dari menimba ilmu dari kenalan yang ahli di bidang kopi hingga mendatangi warung kopi.

Continue reading “Bikin Warung Kopi Tak Harus Mahal”

Kehangatan Interaksi dari Secangkir Kopi

Habib Rizki dengan cekatan membuat secangkir latte panas atau hot latte dalam hitungan menit setelah lebih dulu membikin espresso. Takarannya espresso kali ini 27 gram bubuk kopi house blend hasil racikan Sekutu Kopi. Rampung dengan espresso yang dibikin menggunakan coffee maker keluaran Italia, barista coffee shop yang terletak di Jalan Brigjend Slamet Riyadi ini kemudian menyiapkan susu putih untuk campurannya.

Susunya pun mesti di-steam (dipanaskan) terlebih dulu dengan alat berbentuk tongkat yang satu set dengan mesin pembuat kopinya. Pada tahap ini frothing steam susu untuk membuat foam atau busa. Tahap terakhir ia lalu menuangkan susu ke atas espresso diperindah dengan sentuhan seni (latte art).

“Kalau membikin espresso blend itu bisa pakai mesin atau manual. Bahan utamanya espresso dulu, kalau latte itu dicampur susu, kalau Americano dicampur air,” tuturnya, Selasa (17/7/2018).

Habib adalah salah satu barista yang bekerja di Sekutu Kopi milik pasangan barista, Ricky Vernandes dan Carissa Odillia. Meski baru buka pada April 2018 lalu, coffee shop ini boleh dibilang tak pernah sepi pengunjung. Saat itu sebelum jam makan siang, kafe kopi yang terletak bersebelahan dengan restoran cepat saji McDonald ini sudah didatangi sejumlah pelanggan. Pengunjung yang datang notabene pekerja kantoran. Ini tampak dari baju yang mereka kenakan, yakni setelah celana kain dan kemeja slim fit. Meskipun begitu, ada pula ibu-ibu berhijab yang membawa serta anak mereka yang masih berseragam sekolah usia taman kanak-kanak.

Continue reading “Kehangatan Interaksi dari Secangkir Kopi”