Cerita dari Lasem (1): Bermalam di Tiongkok Kecil Heritage, Penginapan Bergaya China Indies Belanda

rumah-merah-5 Cerita dari Lasem (1): Bermalam di Tiongkok Kecil Heritage, Penginapan Bergaya China Indies Belanda
Tiongkok Kecil Heritage di Lasem, Rembang.

Berkunjung ke Lasem, salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, ini kamu akan seakan memeroleh banyak harta karun. Mulai dari kekayaan tradisi, budaya, sejarah hingga religi yang begitu berharga.

Saya dan seorang kawan pun berkesempatan mengunjungi Lasem pada Sabtu-Minggu (29-30/7/2017) lalu. Dua hari ini kami habiskan untuk berjelajah Lasem, mencari tahu mengenai sejarah, berkunjung ke sejumlah tempat, hingga berburu batik tulis.

Menyadari kami tak paham mengenai Lasem, maka kami meminta bantuan komunitas Kesengsem Lasem untuk menemani kami berjelajah selama dua hari. Kami berangkat dari Semarang pada Sabtu (29/7/2017) pukul 06.00 WIB. Perjalanan menuju Lasem kami tempuh kurang lebih tiga jam menggunakan mobil. Sekitar pukul 09.30 kami sampai di penginapan Tiongkok Kecil Heritage di Desa Karangturi, Lasem.

Continue reading “Cerita dari Lasem (1): Bermalam di Tiongkok Kecil Heritage, Penginapan Bergaya China Indies Belanda”

Cerita dari Thailand (3): Mau Oleh-Oleh dari Thailand? Wajibkan Belanja di Chatuchak Market

ca1-1024x680 Cerita dari Thailand (3): Mau Oleh-Oleh dari Thailand? Wajibkan Belanja di Chatuchak Market
Aneka gelang yang dijual di Chatuchak Weekend Market, Bangkok, Thailand.

Memasukkan Chatuchak Weekend Market ke dalam daftar destinasi wisata ketika berkunjung ke Bangkok, Thailand, adalah hal yang wajib. Tak hanya karena di pasar ini menjual segala jenis barang yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh, tetapi juga banderolan harga aneka barang di sana bikin gelap mata. Bagaimana tidak kalap kalau dengan uang Rp100.000 kamu bisa belanja tas sekaligus kaos yang lucu-lucu. Belum lagi sovenir yang unik nan murah meriah bak kacang goreng.

Continue reading “Cerita dari Thailand (3): Mau Oleh-Oleh dari Thailand? Wajibkan Belanja di Chatuchak Market”

Cerita dari Thailand (2): Gampang Susahnya Mencari Makanan Halal di Thailand

bandara Cerita dari Thailand (2): Gampang Susahnya Mencari Makanan Halal di Thailand
Bandara Don Mueang (DMK), Bangkok, Thailand.

Perut saya keroncongan begitu mendaratkan kaki untuk kali pertama di Bangkok, Thailand, pertengahan Mei 2014 lalu. Saya dan dua kawan seperjalanan, mbak Lia, dan mbak Azizah, sampai di negeri Gajah Putih ini melalui Bandara Don Mueang (DMK), Bangkok, pada malam hari sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Saking begitu antusiasnya kami lupa jika terbang dari Jakarta sore hari, perut kami belum terisi terutama makanan berat.

Selain perut yang keroncongan, kami masih harus berpikir bagaimana caranya sampai ke penginapan yang sudah kami booking jauh-jauh hari di kawasan Silom, Bangkok. Apalagi kami baru tahu jarak dari bandara ke Silom ternyata cukup jauh. Di samping itu, karena sudah malam maka transportasi umum yang bisa kami andalkan hanyalah taksi.

Continue reading “Cerita dari Thailand (2): Gampang Susahnya Mencari Makanan Halal di Thailand”

Cerita dari Thailand (1): 5 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berlibur ke Bangkok

IMG_7200-2 Cerita dari Thailand (1): 5 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berlibur ke Bangkok
Grand Palace di Bangkok, Thailand.

Berlibur ke Thailand terutama ke Bangkok mungkin sudah terlalu mainstream. Tapi, tak ada salahnya melancong ke Negeri Gajah Putih yang amat terkenal di antara wisatawan mancanegara ini. Apalagi di negara kerajaan ini kamu enggak perlu harus merogoh kocek terlalu dalam, kecuali kalau memang niat buat belanja. Selain nilai tukar mata uang kita rupiah ke baht tak mahal, harga barang-barang di Thailand ini juga relatif murah. Namun, sebelum pergi kamu perlu memperhatikan beberapa hal berikut agar liburanmu kian menyenangkan. Ada lima hal yang mungkin perlu diperhatikan seperti saat saya ke Bangkok, Mei 2014 lalu.

Continue reading “Cerita dari Thailand (1): 5 Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berlibur ke Bangkok”

Kampung Kemlayan, Gudangnya Seniman Keraton Solo

2017_0902_13160800 Kampung Kemlayan, Gudangnya Seniman Keraton Solo
Dalem Projoloekitan, di Kemlayan, Serengan, Solo, adalah rumah peninggalan dari seorang arsitek keraton Kasunanan Surakarta dan telah berdiri sejak 1874.

Kampung Kemlayan, di Kecamatan Serengan, Kota Solo, ternyata memiliki sejarah panjang mengenai perkembangan seni tari dan musik tradisional Kota Solo. Akan tetapi, keberadaannya terancam lantaran mesti bersaing dengan kemajuan ekonomi bisnis mengingat wilayah ini terletak di antara kepungan pusat perbelanjaan di kawasan Singosaren dan Coyudan.

Maka dari itu, upaya untuk mempertahankan serta melestarikan kawasan bersejarah inilah yang mencoba untuk dilakukan melalui Gelar Potensi Wisata Kampung Kota yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata (Disparta) Solo bersama Laku Lampah, Solo Creative City, dan Bening Arts Management, Sabtu-Minggu (2-3/9/2017) lalu.

Continue reading “Kampung Kemlayan, Gudangnya Seniman Keraton Solo”

Rumah Kuno Gaya Indisch di Kompleks Hotel Harris Pop! Solo

DE6ADEB7-F06D-451B-B9F4-ADDA9499C706-8744-000002EAB26AB167 Rumah Kuno Gaya Indisch di Kompleks Hotel Harris Pop! Solo
Seorang pekerja memperbaiki rumah kuno di kompleks Harris Pop! Hotel Solo, Selasa (26/12/2017).

Keberadaan rumah dengan gaya arsitektur perpaduan Jawa dan Eropa di kompleks Harris Pop! Hotel Solo di Jalan Slamet Riyadi yang sedang dibangun begitu kontras dengan gedung tinggi yang terletak di belakang maupun sampingnya. Rumah gaya hindis itu memang sengaja tak dirobohkan oleh pemilik Hotel Harris Pop Solo.

Rumah kuno bercat kuning kehijau-hijauan yang mulai pudar warnanya itu tengah direstorasi. Rumah ini diyakini berusia ratusan tahun lewat sebuah penanda pada bagian tembok bangunan yang menunjukkan angka 1851. Di bawah angka tersebut ada tulisan MDS yang menandakan kepemilikan.

Continue reading “Rumah Kuno Gaya Indisch di Kompleks Hotel Harris Pop! Solo”

Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan

DSCF9483-1024x576 Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan
Edy Mulyono, pembatik andalan Batik Mahkota Laweyan, tengah membikin pola, Sabtu (30/9/2017).

Kain mori putih ukuran 1×2,5 meter seketika berubah saat tangan gesit Edy Mulyono menyapukan kuas yang dicelup malam kemudian membentuk garis-garis besar tak beraturan. Dalam hitungan menit, kain putih itu sudah memiliki pola setelah lelaki berusia 61 tahun itu membatik dengan menggunakan canting rengreng yang khusus digunakan untuk membuat pola dasar pada kain. Pola-pola yang dibuatnya pun beraneka bentuk. Ada yang bergambar motif lingkaran, dedaunan, hingga mirip dengan kerang dan kupu-kupu. Hebatnya, membuat pola dasar batik ini dilakukannya tanpa sketsa.

Tak sampai 30 menit, separuh kain mori yang diletakkannya di gawangan, yakni alat untuk menyangkutkan dan membentangkan kain sewaktu dibatik, itu sudah berpola. Tak hanya rapi dan halus, pola yang dihasilkan dari aksi sekali goresan canting itu juga unik dan menarik. Ia mengandalkan pengalamannya yang sudah puluhan tahun membatik untuk nglereng atau membuat pola ornamen utama pada kain dengan spontan.

Continue reading “Para Penjaga Tradisi Membatik di Kampung Laweyan”